Ini soal tanggung jawab

Tags

Seorang teman menelepon saya hari itu.Perasaan heran langsung muncul di pikiran saya.Tumben banget dia nelpon?ade apee dunia?telepon itulah yang akhirnya membuat saya berada di tempat ini.Di atap kos-kosan teman saya. Saya memandangi cowok di sebelah saya heran.Tubuhnya terlihat lebih kurus. Sejak saya tiba, dia udah nangkring di atap kosannya, menghabiskan berpuntung-puntung rokok, dan menegak sebotol vodka.Pandangannya menerawang jauh.
“Yaelah, masih gini-gini aja lo!” sapa saya sambil membawa secangkir cofemix yang saya beli di warung sebelah.
Dia cuma nyengir.Sambil kembali menghisap rokoknya dalam-dalam.

Pathetic.Itu yang bisa saya ucapkan dalam hati ketika melihat teman saya itu. Sosok yang dulu begitu diidolakan banyak orang karena kecanggihannya bermain gitar,sosok yang dulu begitu sombong karena kecerdasan otaknya, digilai perempuan,dan doyan mem-bully karena kekuasaannya di sekolah.Tapi sekarang… Nothing.Semua korban-korbannya seakan membalaskan semua dendam padanya.Tertawa-tawa karena kondisinya saat ini yang…..nothing.

“Cariin gue kerja, Chiel.”
“Lha, kerjaan lo?”
“Kerja tetap maksud gue.Bukan kerja serabutan.”
Saya menghela nafas panjang.Kemudian menatapnya. “Kenapa?”
Dia menegak minumannya. Kemudian berjalan ke sudut atap.
Dalam hati saya mulai berguman, ‘duh! Kalau sampai teman saya begini,berarti masalahnya berat banget.’
“Cewek gue hamil,Chiel. Anak gue.”
Kaget.Sekaget-kagetnya. Tapi semua ekspresi saya tahan sebisa mungkin.Saya cuma diam.
“Gue salah. Biasalah, kebawa pergaulan anak mude jaman sekarang”
Dengan intonasi yang datar, saya bertanya, “Trus?Lo maunya gimana?”
“Gue akan tanggung jawablah.Gue dan cewek gue udah ngomong sama bokap-nyokap gue…”

Dalam hati saya amat sangat respect dengan keputusan yang diambil teman saya.Itu yang namanya lelaki.Dia bukan cowok bajingan yang ninggalin ceweknya, lepas tanggung jawab setelah tahu ceweknya hamil. Dan butuh keberanian luar biasa untuk mengakui semuanya.Itu yang saya salut dari dia.Meskipun nggak bisa dibenarkan juga perilaku “ngehamilin’ anak orang sebelum nikah.Gimana kalau jadi orang tuanya, pasti shock sampe ubun2.But anyway, itu pilihannya dia kan booo…ngapain saya ikut campur hidupnya die.Macem hidup saya bener aja ahaha… Hush!

“Hidup lo sempurna banget ya, Chiel..” ujarnya tiba-tiba.Bikin saya kaget sekaligus heran.
“Yassalaaam!!! kalo hidup gue sempurna, gue nggak mungkin ada di sini cuma untuk liatin elo mabok.Gue pasti udah naik ferari dan jalan-jalan ke Raja Ampat.Huahaha…” jawab saya.

Tapi dia diam saja.Kayaknya dia lagi nggak mau bercanda. “Menurut gue, semua orang punya kesempurnaan masing-masing dalam hidup.Yang penting tuh bersyukur.Kesempurnaan itu dinilai dari seberapa banyak kita mensyukuri hidup kita.Yakanyakan?”
“Tapi hidup lo rapih, Chiel. Ya..meskipun kelakuan lo rada sableng.” Dia nyengir sesaat.Kemudian kembali menghisap rokoknya.
“Ah.. lo gak tau aja klo hidup gue berantakan juga kayak muke lo!” jawab saya sambil cengengesan.
“Gw salah banget, Chiel.”
“Udah deeeh, nggak usah nyalahin diri lo mulu.Ini udah kejadian gitu.Pertama,elo udah ngaku salah.Kedua,elo udah tanggung jawab.Ketiga,lo udah mikirin masa depan buat elo dan keluarga baru lo nanti.Nah, tinggal elo melakukan tugas lo dengan baik sebagai kepala keluarga nanti sebagai bentuk menebusan dosa lo.Dan ini…musti berhenti ini…”ujar saya sambil mengambil botol minumannya.

Saya menatap teman saya. Saya tahu dia bandel amit-amit dari jaman dia sekolah dulu.Rusuh, asal, berantakan. Tapi hey… Malam ini saya melihat sebuah kedewasaan didirinya.Saya bukan orang tua dia yang berhak menghakimi atas perilakunya. Tapi, menurut saya, inti dari semua itu kan masalah tanggung jawab.Tanggung jawab dari sebelum dia melakukan, dan setelah dia melakukan. Tanggung jawab antara dirinya dan orang-orang yang berkaitan, serta tanggung jawab dengan Tuhan pastinya. Ketika ia dan ceweknya telah pasang badan untuk bertanggung jawab, apa yang harus dipermasalahkan?malu?malu itu bukannya bagian dari tanggung jawab juga?Toh semuanya udah terlanjur kan?mau nggak mau ya harus dihadapi. Kita hidup di dunia ini aja akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat nanti yakanyakan?maaf saya sok tau… Tapi… Entahlah.Saya cuma berkomentar.Yang jelas, semua orang punya prinsip dan jalan hidup masing-masing.

Kejadian ini sudah setahun yang lalu terjadi.Dan teman saya ini telah memiliki anak yang luarbiasa lucunya.Dan saya bangga luar biasa karena dia telah berubah menjadi sosok ayah yang baik untuk anaknya.Maaf, saya menceritakan kisah ini semata-semata untuk menarik pelajaran berharga soal tanggung jawab:)

Advertisements

Nama saya bertambah (part 2)

Tags

20121111-231248.jpg

Hay, udah lama banget saya nggak posting di blog ini. Maklum, beberapa waktu yang lalu, blog saya ini sempat nggak bisa dibuka lantaran ada beberapa data yang hilang.But anyway, akhirnya blog ini bisa kembali di buka dan dengan layout baru (akhirnyaa)…yiiipieeee!!!

Postingan kali ini adalah janji saya pada kalian yang membaca postingan saya terdahulu dengan judul ‘Nama Saya Bertambah (part 1)’. Yess, syukur Alhamdulillah… Setelah dua tahun jungkir balik mengejar pendidikan, akhirnya selesai juga kuliah S2 saya di komunikasi UI. Dan nama saya yang pada postingan terdahulu: Dyan Nuranindya, SE, bertambah panjang menjadi: Dyan Nuranindya, SE, M.Si 🙂 Bangga?pasti. Tapi bukan karena gelar yang menambah panjang nama saya. Karena bagi saya itu hanya akan membuat keren nama di undangan pernikahan saja (itupun kalo saya pengen masukin:p).Tapi lebih karena bangga bahwa orang serba biasa-biasa saja seperti saya (bahkan lebih cenderung dungu), yang nyaris nggak pernah terbayangkan oleh orang tua saya sekalipun bisa meraih pendidikan tinggi (karena mungkin saya kelewat cuek dan badung! Versi orang tua saya), bisa lulus sampai ke jenjang master. Alhamdulillah…

Saya bukan anak yang pintar.Nilai merah di rapor sudah jadi makanan saya sewaktu sekolah dulu. Bahkan saya sempat mengira kalau guru saya nggak punya bolpoin warna hitam (kidding). Tapi saya selalu punya keyakinan kalau kemampuan saya sebenarnya nggak hanya sebatas nilai merah di rapor. Saya pasti bisa lebih dari itu < — rayuan gombal anak sekolah ketika penerimaan rapor pada orang tua. But anyway, benar saja. Mungkin keyakinan itu yang membuat Tuhan begitu baik pada saya. Saya diberikan jalan dan banyak kesempatan berharga untuk saya bisa terus maju dan mengembangkan potensi saya. Dari mulai diberikan kesempatan untuk menerbitkan buku, sampai memperoleh beberapa beasiswa untuk melanjutkan pendidikan. Saya tahu saya nggak pinter, tapi saya nggak bodoh. Kalau saya nggak bisa, ya saya bisa belajar. Nggak usah buru-buru.Pelan-pelan aja kalau memang mampunya begitu. Dan fyi, kuliah s2 saya ini gratis hehehe…

Satu hal yang 'agak' aneh ketika saya lulus S2 ini. Banyak pola pikir dan sudut pandang yang berubah. Memang, bekerja di perusahaan besar dengan gaji yang ciamik adalah keinginan semua orang. Termasuk saya. Makanya ketika lulus, dan mendapat tawaran-tawaran menggiurkan, saya sempat tergoda. Tapi tiba-tiba hati kecil saya berkata: Hey, This is not what I really want. Memperoleh gelar pendidikan di nama bukan cuma semata-mata untuk mencari jabatan atau materi tinggi. Bukan juga untuk pamer dan gaya-gayaan. Tapi ada hal yang jauh lebih besar dari itu. Yang terkadang nggak disadari oleh para lulusan sarjana di Indonesia ini. Memperoleh gelar pendidikan tinggi merupakan simbol sebuah tanggung jawab yang semakin besar.

Saya teringat seorang dosen saya yang telah mengabdikan seumur hidupnya untuk dunia pendidikan. Kehidupannya sangat sederhana. Padahal gelar di namanya mungkin nggak akan cukup kalau harus ditulis dalam satu baris pada kartu nama. Entah apa jabatannya seandainya dia bekerja di sebuah kantor pemerintahan. Sehari-hari beliau harus mondar-mandir ujung ke ujung Jakarta hanya untuk mengajar. Dia juga bekerja sebagai konsultan di sebuah perusahaan. Ketika ditanya kenapa ia melakukan itu semua, jawabannya simpel : 'Karena orang percaya sama saya' jawaban yang singkat dan terkesan ambigu, tapi mengandung makna yang panjang dan dalam kalau direnungkan.Dan saya mulai mengerti…

'If You're Not Where You Want To Be In Life, It's Your Own Fault'
Kalimat tersebut yang selalu terngiang di hati saya. Membuat saya merenungi apa yang sebenarnya membuat saya bahagia. Saya menuliskan daftar kebahagiaan dan kesedihan saya pada secarik kertas. And guess what? Ternyata hasilnya seimbang. Bahkan ada beberapa yang justru saling melengkapi. Bukti keadilan Tuhan terlihat jelas pada secarik kertas itu. Tuhan ternyata begitu sayang pada saya. Saya diberikan kesedihan, agar saya tahu rasanya bahagia. Dan saya sangat bersyukur atas apapun yang terjadi di dalam kehidupan saya. Melalui secarik kertas itu, akhirnya saya tahu apa yang saya inginkan sebenarnya.

Bergabung dengan berbagai komunitas pengajar bagi kaum marjinal ternyata merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri untuk saya. Membuat diri saya merasa berharga untuk orang lain. Merasa hidup saya lebih bermakna. Disamping juga bekerja secukupnya untuk menyambung hidup. Setiap tetes keringat yang keluar ketika menempuh pendidikan pun nggak sia-sia rasanya. Tuhan sudah begitu baik memberikan saya kesempatan untuk meraih pendidikan tinggi. Jadi sudah menjadi kewajiban saya untuk membagi ilmu yang saya miliki untuk orang-orang yang nggak seberuntung saya. Ini adalah perwujudan rasa syukur saya pada Tuhan. Dengan berbagi. Ingat, harta, gelar, dan kekuasaan nggak dibawa sampai mati!

Kalian pasti punya passion masing-masing dalam hidup. Mengejar materi memang sebuah kewajiban selama nggak berlebihan. Memiliki jabatan tinggi di kantor juga menyenangkan. Tapi percaya deh, semuanya itu nggak akan bermakna kalau kalian nggak membagi apa yang kalian bisa untuk orang lain. So, mulailah mewarnai hidup kalian dengan melakukan hal-hal positif. Mungkin bisa dimulai degan memberikan tempat duduk kepada seorang ibu-ibu di bus, atau membantu orang yang ingin menyebrangi jalan. Sesimpel itu, tapi bisa bikin hidup kamu lebih bernilai.

Oiya, bagaimanapun, nama saya tetap Dyan Nuranindya. Panggil saja Dyan, atau Dichiel, sesuka hati kalian. Saya tetap akan menengok dan tersenyum pada kalian. Saya tetap saya:)

Nb: Mudah-mudahan postingan saya berikutnya, 'Nama saya bertambah part 3' sudah ada nama lelaki yang akan mewariskan wajah keturunan saya kelak di belakang nama saya. Amiiin…

20121111-231955.jpg

Are you happy?

Tags

Setiap orang pasti punya masalah dalam hidupnya.Lelah?Pasti.Saya pernah bertanya pada Tuhan mengenai sebuah kebahagiaan.Dan Tuhan menjawabnya melalui sebuah proses kehidupan.Bahagia ternyata bukan dicari,tapi bisa diciptakan.Sesimpel menertawai kebodohan diri,melihat foto2 gebetan yg lg tersenyum,atau memberi makan seekor kucing kecil di jalanan.Kebahagiaan justru ada ketika kita bisa menangis dan tertawa bersama orang-orang yang kita sayang,atau bahkan orang yang baru kita kenal tapi bersedia menopang tubuh kita, saat kita terpeleset jatuh.Orang-orang yang terpilih untuk menjadi malaikat bagi kita.Bahagia saya dangkal,tapi saya suka…kamu?

Hidup itu balap karung

Tags

20120817-153826.jpg

Hidup itu kadang lucu.
Seperti balap karung.
Perlombaan yang paling saya suka ketika 17 Agustus.

Kita dipaksa bergerak cepat mencapai tujuan akhir.
Padahal kaki terpasung dalam karung
Tidak seperti balap lari. Semua bisa berlari dengan bebas.
Balap karung tidak.

Tapi tidak harus berlari.
Kalau bisa melompat, melompatlah.
Kadang kita terjatuh, tapi tak membuat kita enggan berdiri.
Dan melompat kembali.
Dengan semangat baru.
Semangat yang lebih besar… dari sekedar berlari.

Jangan hiraukan penonton yang hanya tertawa melihat kita kesusahan.

Keterbatasan tak membuat kita enggan berlomba.
Keterbatasan tetap bisa membuat kita mencapai garis akhir
Walau dengan melompat. Bukan berlari.

Tapi melompat membuat kita bersemangat
Melompat membuat kita terlihat lebih tinggi dari dia yang berlari
Melompat membuat kita tahu artinya bekerja keras
Melompat membuat kita terus melaju ke depan.

Melompatlah terus…. melompatlah lebih tinggi

Hingga sampai di tujuan kita
Dan menjadi pemenang

Dirgahayu Indonesiaku…

Di balik Proklamasi

Tags

Memperingati hari kemerdekaan RI, saya iseng browsing2 mengenai fakta-fakta unik seputar proklamasi kemerdekaan. Nah,berikut yang berhasil saya temukan yang kayaknya asik banget buat di share disini…Check this out!

1. Soekarno Sakit Saat Proklamirkan Kemerdekaan
Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00 (2 jam sblm pembacaan teks Proklamasi), ternyata Bung Karno masih tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Saat itu, tepat di tengah2 bulan puasa Ramadhan.

‘Pating greges’, keluh Bung Karno setelah dibangunkan dr Soeharto, dokter kesayangannya. Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan menenggak pil brom chinine. Lalu ia tidur lagi. Pukul 09.00, Bung Karno terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta.

Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah. ‘Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka!’, ujar Bung Karno di hadapan segelintir patriot-patriot sejati. Mereka lalu menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah Putih. Setelah upacara yang singkat itu, Bung Karno kembali ke kamar tidurnya; masih meriang. Tapi sebuah revolusi telah dimulai…

2. Upacara Proklamasi Kemerdekaan Dibuat Sangat Sederhana
Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor, dan tak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sakral yang dinanti-nanti selama lebih dari 300 tahun!

3. Bendera dari Seprai
Bendera Pusaka Sang Merah Putih adalah bendera resmi pertama bagi RI. Tetapi dari apakah bendera sakral itu dibuat? Warna putihnya dari kain sprei tempat tidur dan warna merahnya dari kain tukang soto!

4. Akbar Tanjung Jadi Menteri Pertama “Orang Indonesia Asli”
Setelah merdeka 43 tahun, Indonesia baru memiliki seorang menteri pertama yang benar-benar ‘orang Indonesia asli’. Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat itu. ‘Orang Indonesia asli’ pertama yang menjadi menteri adalah Ir Akbar Tanjung (lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan (1988-1993)

5. Kalimantan Dipimpin 3 Kepala Negara
Menurut Proklamasi 17 Agustus 1945, Kalimantan adalah bagian integral wilayah hukum Indonesia. Kenyataannya, pulau tersebut paling unik di dunia. Di pulau tersebut, ada 3 kepala negara yang memerintah! Presiden Soeharto (memerintah 4 wilayah provinsi), PM Mahathir Mohamad (Sabah dan Serawak) serta Sultan Hassanal Bolkiah (Brunei).

6. Setting Revolusi di Indonesia Diangkat Ke Film
Ada lagi hubungan erat antara 17 Agustus dan Hollywood. Judul pidato 17 Agustus 1964, ‘Tahun Vivere Perilocoso’ (Tahun yang Penuh Bahaya), telah dijadikan judul sebuah film – dalam bahasa Inggris; ‘The Year of Living Dangerously’. Film tersebut menceritakan pegalaman seorang wartawan Australia yg ditugaskan di Indonesia pada 1960-an, pada detik2 menjelang peristiwa berdarah th 1965. Pada 1984, film yang dibintangi Mel Gibson itu mendapat Oscar untuk kategori film asing!

7. Naskah Asli Proklamasi Ditemukan di Tempat Sampah
Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan BM Diah. Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik.Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.

8. Soekarno Memandikan Penumpang Pesawat dengan Air Seni
Rasa-rasanya di dunia ini, hanya the founding fathers Indonesia yang pernah mandi air seni. Saat pulang dari Dalat (Cipanasnya Saigon), Vietnam, 13 Agustus 1945, Soekarno bersama Bung Hatta, dr Radjiman Wedyodiningrat dan dr Soeharto (dokter pribadi Bung Karno) menumpang pesawat fighter bomber bermotor ganda. Dalam perjalanan, Soekarno ingin sekali buang air kecil, tetapi tak ada tempat. Setelah dipikir, dicari jalan keluarnya untuk hasrat yang tak tertahan itu. Melihat lubang-lubang kecil di dinding pesawat, di situlah Bung Karno melepaskan hajat kecilnya. Karena angin begitu kencang sekali, bersemburlah air seni itu dan membasahi semua penumpang.

9. Negatif Film Foto Kemerdekaan Disimpan Di Bawah Pohon
Berkat kebohongan, peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini. Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar. Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada Jepang?

10. Bung Hatta Berbohong Demi Proklamasi
Kali ini, Bung Hatta yang berbohong demi proklamasi. Waktu masa revolusi, Bung Karno memerintahkan Bung Hatta untuk meminta bantuan senjata kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk pergi ke India pun dilakukan secara rahasia. Bung Hatta memakai paspor dengan nama ‘Abdullah, co-pilot’. Lalu beliau berangkat dengan pesawat yang dikemudikan Biju Patnaik, seorang industrialis yang kemudian menjadi menteri pada kabinet PM Morarji Desai. Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh Nehru dan diajak bertemu Mahatma Gandhi.

Nehru adalah kawan lama Hatta sejak 1920-an dan Dandhi mengetahui perjuangan Hatta. Setelah pertemuan, Gandhi diberi tahu oleh Nehru bahwa ‘Abdullah’ itu adalah Mohammad hatta. Apa reaksi Gandhi? Dia marah besar kepada Nehru, karena tidak diberi tahu yang sebenarnya.’You are a liar !’ ujar tokoh kharismatik itu kepada Nehru.

Sumber: Sudahtahukahkamu.blogspot.com

Pesan dari seorang besar

Tags

Saya terjaga.

Dua orang lelaki berbadan tegap berdiri di hadapan saya.Mengenakan kemeja batik dengan motif sama.Ia menatap saya tajam. Salah satu menyebutkan nama panjang saya dengan jelas, yang saya jawab dengan anggukan kepala.

“Ikut kami.Ada yang ingin bertemu dengan Anda.” ujar salah satu dari mereka sambil memberikan kode agar saya mengikuti mereka.

Saya bangkit dari tempat duduk saya.Sejenak saya memerhatikan pantulan tubuh saya lewat cermin besar yang terpajang disana. Saya mengenakan celana jeans,jaket dengan capuchon, dan sepatu converse andalan saya.Kemudian saya memerhatikan sekeliling.Dimana ini?sepertinya saya nggak mengenal tempat ini.Sebuah rumah kuno yang sangat besar dengan perabotan serba Indonesia. Ada wayang, gamelan, tifa, kain ulos, sasando, dll. Saya seperti berada di sebuah museum.

Di salah satu sudut ruangan, terpajang foto sangsaka merah-putih yang tengah berkibar dengan gagah di puncak Mahameru.

Langkah saya terhenti ketika kedua pria tadi meminta saya berhenti di depan sebuah pintu kayu besar dengan ukiran khas Jepara.Sebuah kalimat pendek terucap di bibir salah satu pria tersebut sebelum ia membukakan pintu kayu tersebut untuk saya..”Waktu kamu lima belas menit.”

Dan….. Gelap.

Pintu dibelakang saya kembali tertutup ketika saya memasuki ruangan tersebut. Ruangan itu agak temaram.Mirip seperti ruang kerja. Dengan banyak sekali foto-foto yang terpajang disana.Di tengah ruangan terdapat sebuah kursi. Dan meja kecil dengan secangkir minuman yang masih panas.Saya tahu dari asap yang masih mengepul dari cangkir tersebut. Hmmm… Cappucino.Ya, itu pasti Cappucino.Saya hafal betul baunya. Karena itu minuman favorit saya.

Sebuah televisi menyala di ruangan tersebut. Bulu kuduk saya berdiri ketika melihat apa yang ditampilkan dalam televisi tersebut. Televisi itu memutar cuplikan-cuplikan wajah-wajah bangsa Indonesia ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya. Wajah seorang atlet Indonesia yang menangis ketika lagu Indonesia Raya berkumandang, getaran suara lagu tersebut yang dinyanyikan oleh lautan manusia di Gelora Bung Karno, anak-anak sekolah yang sedang mengikuti upacara bendera, dan para pendaki gunung yang berhasil menancapkan sangsaka merah-putih di puncak gunung tertinggi di dunia. Semua menyanyikan lagu Indonesia Raya.Dengan khidmad.Bahkan dengan tangan di dada…

Dan di ruangan itu… saya menitikkan air mata…entahlah.

Tiba-tiba saya menyadari kalau saya tidak sendirian di ruangan itu.Ada seorang pria yang sejak tadi mengamati saya. Duduk di kursi merah tak jauh dari sana.Ia melihat gerak-gerik saya yang (kemungkinan) sangat konyol karena kayak orang udik.Saya menengok ke arah pria itu dan sekujur tubuh saya mendadak gemetar bukan main. “Anda….”

Pria tersebut tersenyum hangat. Beliau hanya menganggukkan kepalanya.Seperti tahu apa yang ada di pikiran saya. “Mari duduk.Sudah ada Cappucino di meja.Kamu suka Cappucino, bukan?Santai saja.”

Saya meyakinkan diri kalau ini adalah mimpi.Ini nggak nyata.Mana mungkin saya yang bukan siapa-siapa ini berada di satu ruangan dengan orang seperti beliau?Ini pasti mimpi. Tapi meskipun mimpi, kenapa tubuh saya gemetar hebat?kenapa jatung saya berdetak begitu kencang? Apa kalian tahu siapa pria yang ada di hadapan saya saat ini?
“Pak Presiden, maaf saya….”
“Jangan panggil saya dengan sebutan itu.Saya bukan lagi presiden. Nama saya… Soekarno.”

Saya menatap beliau, memerhatikan senyuman berkharisma dari presiden pertama RI itu. Sosok yang selama ini hanya saya dengar dan baca dari buku-buku sejarah, ada di hadapan saya.Ya, nggak salah lagi, sosok itu sangat berkharisma.Pantas saja beliau begitu dipuja, begitu dikagumi…

“Apa yang ingin kamu tanyakan ke saya?” tanyanya. Lagi-lagi, ia seperti membaca apa yang ada di pikiran saya. “Tanyakan apapun yang ada di kepalamu.Jangan habiskan waktu. Kamu hanya tinggal punya 10 menit untuk bertemu saya.”
“Maaf, apa Bapak sangat sibuk?” pertanyaan bodoh pertama yang keluar dari mulut saya.
Beliau kembali tersenyum. “Saya hanya punya waktu terbatas.Ada jutaan pemuda Indonesia yang harus saya temui. Sebelum semuanya terlambat.”
“Terlambat?”
Pria itu menganggukkan kepalanya.Kemudian dengan lantang ia berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu saat ini akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” ucapnya tegas sambil menunjuk kearah saya.

Saya terdiam. Pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya mengalir deras mendadak hilang seketika di kepala saya.Mungkin saya terlalu kaget, grogi, atau… Takut.

“Tidak usah takut. Saya manusia biasa. Dulu ketika menjadi presiden, saya juga mengalami sakit. Mengalami jatuh terpuruk. Tapi derita saya itu dapat dijadikan sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.”

“Saya bukan takut dengan Bapak… Saya takut dengan diri saya sendiri. Saya takut tidak bisa memberikan apa-apa untuk Bangsa ini. Saat ini banyak teman-teman saya yang putus asa dengan bangsa ini…” ucap saya sambil berpikir keras.Dalam kepala saya sangat random.

“Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun. Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.”

“Permasalahan negara ini banyak sekali, Pak…. ”

“Apakah Kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong”

Tiba-tiba sebuah pertanyaan spontan keluar dari bibir saya.Mungkin terdengar kurang sopan. “Pak, apa yang ingin Bapak lakukan dengan saya?dengan seluruh pemuda Indonesia?”

Beliau tersenyum hangat.Sesaat menganggukkan kepalanya. “Saya hanya ingin kalian tidak melupakan sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.”

Saya terdiam. Berusaha mencerna maksud perkataan beliau.Tiba-tiba saya teringat sesuatu. “Pak, apakah Bapak tahu yang terjadi dengan bangsa Indonesia saat ini?”

Beliau menganggukkan kepalanya.Senyum tak pernah lepas dari wajahnya.

“Apakah kamu mengetahui pidato yang pernah saya sampaikan pada 29 Juli 1956 di Semarang?”
Saya menggelengkan kepala.Jujur. Mana saya hafal pidato beliau satu persatu?

Beliau tidak kecewa. Ia tetap tersenyum, kemudian dengan sekali hentakkan, televisi di ruangan tersebut menampilkan beliau sedang berpidato sebagai Presiden Republik Indonesia.

Saya membalikkan badan, menatap ke layar televisi.Menyimak setiap detail kata-kata dalam pidatonya…

“Saudara-saudara, saya pernah ceritakan di negara-negara barat, hal artinya manusia, hal artinya massa, massa.

Bahwa dunia ini dihidupi oleh manusia. Bahwa manusia didunia ini, Saudara-saudara, “basically” – pada dasar dan hakekatnya – adalah sama; tidak beda satu sama lain. Dan oleh karena itu, manusia inilah yang harus diperhatikan. Bahwa massa inilah akhirnya penentu sejarah, “The Makers of History”. Bahwa massa inilah yang tak boleh diabaikan ~ dan bukan saja massa yang hidup di Amerika, atau Canada, atau Italia, atau Jerman, atau Swiss, tetapi massa diseluruh dunia.

Sebagai tadi saya katakan: Bahwa “World Prosperity”, “World Emancipation”, “World Peace”, yaitu kekayaan, kesejahteraan haruslah kekayaan dunia : bahwa emansipasi adalah harus emansipasi dunia; bahwa persaudaraan haruslah persaudaraan dunia ; bahwa perdamaian haruslah perdamaian dunia ; bahwa damai adalah harus perdamaian dunia, berdasarkan atas kekuatan massa ini.

Itu saya gambarkan, saya gambarkan dengan seterang-terangnya. Saya datang di Amerika,- terutama sekali di Amerika – Jerman dan lain-lain dengan membawa rombongan. Rombongan inipun selalu saya katakan : Lihat, lihat , lihat, lihat!! Aku yang diberi kewajiban dan tugas untuk begini : Lihat, lihat, lihat!! – Aku membuat pidato-pidato, aku membuat press-interview, aku memberi penerangan-penerangan; aku yang berbuat, “Ini lho, ini lho Indonesia, ini lho Asia, ini lho Afrika!!”

Saudara-saudara dan rombongan : Buka mata, Buka mata! Buka otak! Buka telinga

Perhatikan, perhatikan keadaan! Perhatikan keadaan dan sedapat mungkin carilah pelajaran dari pada hal hal ini semuanya, agar supaya saudara saudara dapat mempergunakan itu dalam pekerjaan raksasa kita membangun Negara dan Tanah Air.

Apa yang mereka perhatikan, Saudara-saudara? Yang mereka harus perhatikan, bahwa di negara-negara itu – terutama sekali di Amerika Serikat – apa yang saya katakan tempo hari disini ” Hollandsdenken ” tidak ada.
“Hollands denken” itu apa? Saya bertanya kepada seorang Amerika.
Apa “Hollands denken” artinya, berpikir secara Belanda itu apa?
jawabnya tepat Saudara-saudara, “That is thinking penny-wise, proud, and foolish”, katanya.
“Thinking penny-wise, proud and foolish”. Amerika, orang Amerika berkata ini, “Thinking penny-wise” artinya Hitung……..satu sen……..satu sen……..lha ini nanti bisa jadi dua sen apa `ndak?…….. satu sen……..satu sen………

“Thinking penny-wise”………”Proud” : congkak, “Foolish” : bodoh.

Oleh karena akhirnya merugikan dia punya diri sendirilah. Kita itu, Saudara-saudara, 350 tahun dicekoki dengan “Hollands denken” itu. Saudara-saudara, kita 350 tahun ikut-ikutan, lantas menjadi orang yang berpikir “penny-wise, proud and foolish” Yang tidak mempunyai “imagination”, tidak mempunyai konsepsi-konsepsi besar, tidak mempunyai keberanian – Padahal yang kita lihat di negara-negara lain itu, Saudara-saudara, bangsa bangsa yang mempunjai “imagination”, mempunyai fantasi-fantasi besar: mempunyai keberanian ; mempunyai kesediaan menghadapi risiko ; mempunyai dinamika.
Washington Monument, didirikan tahun 1884
George Washington Monument misalnya, tugu nasional Washington di Washington, Saudara-saudara : Masya Allah!!! Itu bukan bikinan tahun ini ; dibikin sudah abad yang lalu, Saudara-saudara. Tingginya! Besarnya! Saya kagum arsiteknya yang mempunyai “imagination” itu, Saudara-saudara.
Bangsa yang tidak mempunyai : imagination” tidak bisa membikin Washington Monument. Bangsa yang tidak mempunyai “imagination”………ya, bikin tugu, ya “rongdepo”, Saudara-saudara. Tugu “rong depo” katanya sudah tinggi, sudah hebat.
“Pennj-wise” tidak ada, Saudara-saudara. Mereka mengerti bahwa kita – atau mereka – jikalau ingin menjadi satu bangsa yang besar, ingin menjadi bangsa yang mempunyai kehendak untuk bekerja, perlu pula mempunyai “imagination”,: “imagination” hebat, Saudara-saudara.

Perlu jembatan? Ya, bikin jembatan……tetapi jangan jembatan yang selalu tiap tiap sepuluh meter dengan cagak. Saudara-saudara, ya , umpamanya kita di sungai Musi…….Tiga hari yang lalu saya ini ditempatnya itu lho Gubernur Sumatera Selatan – Pak Winarno di Palembang – Pak Winarno, hampir hampir saja berkata dengan sombong, menunjukkan kepada saya “ini lho Pak! Jembatan ini sedang dibikin, jembatan yang melintasi Sungai Musi” – Saya diam saja -”Sungai Ogan” – Saya diam saja, sebab saya hitung-hitung cagaknya itu. Lha wong bikin jembatan di Sungai Ogan saja kok cagak-cagakan !!

Kalau bangsa dengan “imagination” zonder cagak, Saudara-saudara !!
Tapi sini beton, tapi situ beton !! Satu jembatan, asal kapal besar bisa berlalu dibawah jembatan itu !! Dan saya melihat di San Fransisco misalnya, jembatan yang demikian itu ; jembatan yang panjangnya empat kilometer, Saudara-saudara ; yang hanya beberapa cagak saja.

Satu jembatan yang tinggi dari permukaan air hingga limapuluhmeter; yang kapal yang terbesar bisa berlayar dibawah jembatan itu. Saja melihat di Annapolis, Saudara-saudara, satu jembatan yang lima kilometer lebih panjangnya, “imagination”, “imagination” “imagination”!!! Ciptaan besar!!!

Jembatan raksasa Golden Gate di San Francisco,sudah berdiri sejak tahun 1937
Kita yang dahulu bisa menciptakan candi-candi besar seperti Borobudur, dan Prambanan, terbuat dari batu yang sampai sekarang belum hancur ; kita telah menjadi satu bangsa yang kecil jiwanya, Saudara-saudara!! Satu bangsa yang sedang dicandra-cengkalakan didalam candra-cengkala jatuhnya Madjapahit, sirna ilang kertaning bumi!! Kertaning bumi hilang, sudah sirna sama sekali. Menjadi satu bangsa yang kecil, satu bangsa tugu “rong depa”.

Candi raksasa Borobudur di Indonesia, sudah berdiri sejak abad 9 Masehi!
Saya tidak berkata berkata bahwa Grand Canyon tidak cantik. Tapi saya berkata : Tiga danau di Flores lebih cantik daripada Grand Canyon. Kita ini, Saudara-saudara, bahan cukup : bahan kecantikan, bahan kekayaan. Bahan kekayaan sebagai tadi saya katakan : “We have only scratched the surface ” – Kita baru `nggaruk diatasnya saja.
Kekayaan alamnya, Masya Allah subhanallahu wa ta’ala, kekayaan alam.

Saja ditanya : Ada besi ditanah-air Tuan? – Ada, sudah ketemu :belum digali. Ya, benar! Arang-batu ada, Nikel ada, Mangan ada, Uranium ada. Percayalah perkataan Pak Presiden. Kita mempunyai Uranium pula.

Kita kaya, kaya, kaya-raya, Saudara-saudara : Berdasarkan atas “imagination”, jiwa besar, lepaskan kita ini dari hal itu, Saudara-saudara.
Gali ! Bekerja! Gali! Bekerja! Dan kita adalah satu tanah air yang paling cantik di dunia

Dan televisi di ruangan tersebut mati. Suasana ruangan kembali temaram. Saya menengok ke belakang. Ternyata beliau telah pergi. Entah kemana.
Saya berjalan menuju meja kecil yang terdapat secangkin Cappucino di atasnya. Secarik kertas bertanda tangan beliau tergeletak di sana.Saya membacanya…

“Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan. Dan minum Cappucino ini selagi hangat.”

Dan saya terbangun.
Lagu Indonesia Raya berkumandang di layar televisi kamar saya.
Kalender dinding menunjukkan tanggal 17 Agustus 2012.

Dirgahayu Indonesiaku.

Nb: Kisah ini hanya fiksi belaka. Kata-kata Soekarno saya ambil dari pidato-pidato beliau di berbagai sumber:)

Nightmare

Tags

20120816-184839.jpg

“Dek…dek… Kamu kenapa?”
Samar-samar saya mendengar Mama memanggil-manggil nama saya. Hingga saya tersadar dari tidur. Jantung saya berdetak cepat.
“Eehh… Kamu ngigau, Dek!”
“Ngigau?”
Mama mengangguk menatap saya. “Kamu manggil nama ****.”
“Hah?!?Masa?”
“Kamu mimpi apa?”
Saya mencoba mengingat-ingat mimpi saya barusan. Terdiam. Hasilnya?Nihil. Saya lupa.
“Ada masalah yang belum selesai ya?”
“Apaan sih, Mah?Enggak, nggak ada apa-apa.Namanya juga mimpi.Nggak jelas.”
“Justru mimpi itu kan alam bawah sadar kamu yang bekerja.”
“Enggak.Nggak ada apa-apa kok.Udah deh,Mah..”
“Kalau ada masalah, diselesaiin dulu…”
“Apaan sih, Mah? Enggak kok. Nggak ada apa-apa.Beneran..”
Mama terdiam. Kemudian berkata…
“Kamu ngigau manggil nama **** bukan cuma sekali ini,Dek….”

Saya lupa.
Lupa apa yang membuat saya mengigau.
Tapi saya ingat.
Ingat kalau akhir-akhir ini saya memang berkali-kali bermimpi…. Tentang dia.

Si Pencemburu Sejati

Tags

Huaaaa….pengen banget posting ini gara-gara omongan salah satu sahabat saya kemarin ketika kami reunian buka puasa bareng.Cerita ngalor-ngidul pun terjadi. Dari mulai kisah lucu, menyenangkan, menyedihkan, sampai kisah aib masing-masing.Dan… Sebuah kasus lama pun baru terbongkar…
“Si X apa kabar, Chiel?”
Saya menggeleng. “Nggak tau, udah lama banget nggak ketemu. Dia masih sempet sih, nelpon nanya kabar.Lebihnya nggak pernah lagi.”
Kawan saya pun tertawa.Membuat saya heran. Kemudian dia cerita panjang-lebar, “Dulu santai banget ya lo waktu sama dia.”
“Santai gimana?”
“Yaah… Dia mondar-mandir sama cewek lain, elo santai-santai aja.Gue kan jadi diem-diem aja.Gue mikir, elo-nya aja santai, masa gue yang sewot.” ucapnya sambil tertawa.
“Gak tau ya, gue percaya aja sama dia.Lagian dia nggak pernah bohong juga pergi sama siapa.Ampe apal gue tuh cewek siapa-siapa aja.Gak perlu gue tanyain, dia udah kabarin gue sendiri.”
“Lo nggak sakit hati?”
“Cemburu sih iya, tapi kadang gue mikir lagi. Ngapain gue cemburu?Toh dia sayangnya sama gue.Selalu ada waktu buat gue.Dan dia nggak pernah malu bawa atau ngenalin gue ke temen-temennya dia sebagai pacarnya.”
“Ah lo selalu gt.Sama yg dulu2 juga cuek bgt”
“Njriit! Macem banyak aje ahahaha…”

Okay, case closed. Sorry ya, nggak bisa dilanjutin lagi ceritanya. Just kalian tahu intinya aja ahahaha…. Obrolan dengan sahabat saya itu tiba-tiba menyadarkan saya pada suatu pemikiran.Sebenernya salah nggak sih, kalau kita terlalu cuek dan santai dengan pasangan kita?Kata orang-orang jaman dulu sih, yang penting itu saling percaya.Tapi kalau terlalu percaya tanpa adanya ‘penjagaan’ apakah akan baik-baik saja?
Saya akui, pada dasarnya saya orang yang sangat cueeek banget sama sebuah hubungan ketika pacaran.Saya terlalu menganut sistem ‘saling percaya’ yang emang nempel banget di kepala saya.Saya mikir, kalau saya nggak selingkuh dan baik-baik saja, pasti pasangan saya juga melakukan sebaliknya. Tapi… Sepertinya hal kayak gitu nggak bisa dilakukan di jaman sekarang.Apalagi di kota besar.Makanya saya seringkali jadi korban perselingkuhan ahahaha…hush! *maap

Pola pikir saya itu lambat laun saya rubah. Tapi anehnya malah merubah drastis pemikiran saya. Asli, saya jadi sangat pencemburu. Bawaannya uring-uringan kalau pasangan saya nggak ngabarin di mana dia berada.Bawaannya khawatir. Bawaannya deg2an, curigaan.Dikit-dikit kangen.Tidur nggak tenang.Kerjaan berantakan.Gosh! Ini bukan saya banget! Dan diperparah dengan kejadian2 nggak menyenangkan yang nggak sengaja saya lihat. Okay, saya memang sayang berlebihan. Tapi ternyata itu malah membuat pasangan saya nggak nyaman *im so sorry:(* Ujung-ujungnya…. (again!) saya jatuh sakit.Tolol!

Guys, learning dari itu semua adalah… Kalau kalian pengen tahu semua-muanya tentang pasangan kalian, coba tanya pada diri kalian masing-masing dulu apakah kalian siap untuk mengetahui hal-hal yang (mungkin aja) akan nyakitin diri kalian sendiri?Kalau kalian nggak siap, yaudah, nggak usah kepo menyelidiki twitter,fb,atau sms dia dengan cewek2.Kecuali kalo emang ada bukti pasangan kamu jelas2 selingkuh ya… Sebelum akhirnya putuss (haha!tetep).Anyway, saya sekarang lebih santai.Kalau siap sakit hati, ya silahkan jadi kepo.Tapi kalau nggak siap, yaudah jangan cari gara2,gatel ngecek2…nanti pusing sendiri.Haha…

Jujur, saya lebih suka bersama dengan pasangan yang bisa saling bicara baik-baik tentang apa yang memang saya inginkan dari dia, dan apa yang dia inginkan dari saya.Karena kadang nggak semua yang saya lakukan itu bener lho… bisa jadi saya salah total di mata pasangan saya. Saling percaya itu masih tetep penting buat saya. Intinya, yang paling saya sayangi itu dia. And I prepared myself perfectly for him. I’ll do my best to become his future wife. Selama ini, secara nggak langsung, pasangan saya jadi motivasi diri saya untuk menabung banyak hal untuk masa depan. Misalnya, ngingetin saya biar nggak boros karena nabung buat nikah, bikin saya setengah mati belajar masak biar bisa masakin dia sarapan, belajar bangun sebelum subuh untuk nyetrika baju untuk nyiapin pakaian kerja dia nanti, atau prepare nyari penghasilan tambahan biar nanti dia nggak terlalu repot mikirin beli bedak buat saya 😀 (its true!saya belajar banyak hal).Bahkan kadang saya suka nabung nggak penting, misalnya: Okay,saya nggak akan marah sama kamu.Jadi kalau saya sampai marah, saya bayar 50 rb :))

Lalu, siapa bilang saya cuek?Saya pencemburu sejati….. karena saya sayang:)

Behind The Scene-Tetralogi Soda

Tags

Udah lama banget ya, saya berencana untuk cerita alasan saya menulis tetralogi Soda. Terus terang,nulis novel Canting Cantiq, Cinderella Rambut Pink, dan Rock’n Roll onthel ini bener-bener seru!
Percaya atau enggak, dalam tetralogi ini, bukan pembaca aja yang belajar sesuatu dari novel ini, tapi saya pun ikut belajar banyak hal dari pembuatan novel-novel ini.

Ide awalnya adalah karena saya sedih banget melihat kurangnya rasa toleransi di negara kita ini.Dari mulai masalah ras,agama,suku, dan lainnya. Kalau ada orang yang berpenampilan,berpendapat, atau berperilaku ‘berbeda’ dari orang kebanyakan,maka mereka dianggap “nggak layak hidup” alias dikucilkan dari pergaulan. Bahkan yang paling apes adalah jadi bahan bully.Padahal kan belum tentu mereka lebih jelek dari yang ngebully.Ya kan…

Bukan cuma itu aja, saya sedih juga ketika tahu banyak banget remaja Indonesia yang justru dengan lantang bilang kalau mereka benci banget sama Indonesia.Dan banyak juga yang lebih suka sama hal-hal yang berbau luar negeri ketimbang buatan Indonesia.Padahal kualitas produk buatan Indonesia juga gak kalah oke. Emang sih,hal itu sah-sah aja.Tapi jangan ngeluh kalo ekonomi Indonesia nggak maju-maju.Piss Jo!

Dari alasan-alasan itu, akhirnya saya mikir, “Kayaknya gw harus ngelakuin sesuatu untuk Bangsa ini!” tapi apa? Saya kan bukan politikus atau pejabat yang punya pengaruh besar buat negeri ini. Saya mikir mayan lama dan…..Taraaaa!!! Ternyata jawabannya justru ada di depan mata kepala saya sendiri.

“Hey,Im a writer! So write it!”

Pertanyaan terbesar saya sewaktu mulai menulis ini adalah, “Apa novel saya ini bisa diterima sama anak-anak muda saat ini?” as we know, novel saya sebelumnya mengusung logo teenlit yang selalu berkesan “light” dengan warna-warna cover stabilo dimana didalamnya berisi tulisan sangat ringan dan cerita yang berada di lingkup yang familier dengan anak muda. Pakem-pakem itu akan sedikit berubah kalau saya beneran menulis tetralogi ini…

Berani???

Saya cuma berpikir sejenak, selanjutnya…Hantem aja ah!
Yap,saya hantem segala ketakutan saya.Lagian,saya yakin pembaca-pembaca saya cukup keren untuk bisa menerima hal-hal baru di dunia teenlit.Jadinya saya pede aja.Masalah suka atau enggak urusan belakangan.Yang jelas, saya pengen belajar dan pengen pembaca novel saya juga ikut belajar ketika mereka membaca. Sadeeess!

Jadilah saya riset kiri-kanan. Banyak-banyak baca buku tentang Indonesia dan mencari tokoh-tokoh yang punya penampilan dan perilaku unik di luar sana. Yang bisa mewakilkan jiwa dan emosi anak-anak muda Indonesia yang sangat beragam. Beberapa diantara perilaku kecil tokoh-tokoh dalam tetralogi ini memang saya ambil dari diri saya sendiri…yaaakkk buka kartuuuu!!!

Dan saya pilihlah setting tempat tokoh-tokoh tersebut di dalam sebuah kos-kosan. Soalnya kos-kosan itu tempat yang paling identik sama anak muda yang lagi sekolah atau kuliah yang berasal dari kota-kota berbeda.Dari situlah toleransi di bangun :).Kos-kosan Soda (nama kos-kosan di novel saya) mewakili sebuah keluarga, bahkan bisa juga sebuah negara.Dimana isinya berbeda-beda, tapi tetap berada dalam satu kesatuan. Memiliki seorang pemimpin yang bijaksana bernama Eyang Santoso (pemilik kos-kosan Soda) yang sangat mencintai dan peduli terhadap pendidikan di Indonesia.

Cerita dari masing-masing novel memang membawa tema tentang semangat anak muda Indonesia dari berbagai segi.Karena Indonesia itu luas,Jeung! Banyak yang bisa kalian ceritakan.Dari sejarahnya, budayanya, keindahan alamnya, dan seterusnya dan sebagainya. Dari Sabang sampai Merauke.

Novel ini adalah salah satu bentuk kontribusi saya untuk Indonesia. Mudah-mudahan tetralogi ini bisa dibeli juga oleh penerbit luar untuk di translate menjadi bahasa asing.Seperti yang terjadi di dua novel saya sebelumnya, Dealova dan Rahasia Bintang.Amiiinn….

So, apa yang bisa kamu lakukan untuk Indonesia?lakukan dari sekarang…