Size doesn’t matter

“Badan lo enak banget ya, kecil. Jadi mau ngapa-ngapain gampang.”

Begitu kira-kira kalimat yang sering saya dengar dari mulut teman-teman saya. Satu sisi bersyukur karena dengan tubuh mini seperti ini saya masih diberikan kesehatan. Tapi di sisi lain, ada banyak hal yang nggak kalian ketahui mengenai orang-orang bertubuh mini seperti saya.

Dari dulu saya sering berkata pada teman-teman untuk bersyukur bagaimana pun bentuk tubuhnya. Mau ukuran besar ataupun kecil. Yang terpenting itu adalah kesehatan. Buat apa bertubuh indah tapi sakit-sakitan? atau mungkin yang lebih ekstrim lagi, buat apa bertubuh indah tapi nggak bahagia?

Ketahuilah bahwa memiliki tubuh mini seperti saya nggak selalu menyenangkan.Saya sering diremehkan orang karena dianggap anak kecil.Baik secara pemikiran ataupun kekuatan fisik.Yang jelas,saya harus bekerja keras dua kali lipat dari pada orang-orang yang bertubuh besar hanya untuk sebuah pengakuan. Saya juga kesulitan menemukan pakaian wanita yang cukup proposional untuk saya. Saya lebih sering mencari di bagian khusus anak-anak.

…sedih….

Tapi lebih sedih lagi ketika mengetahui banyak teman-teman saya yang bertubuh besar justru sangat ingin memiliki tubuh mini seperti saya. Banyak dari mereka yang rela diet habis-habisan bahkan sampai tersiksa karena menu makanan yang penuh dengan peraturan yang jumlahnya melebihi UUD 45. Akibat diet ketat itu banyak yang jatuh sakit.

Dari situ saya sadar emang manusia nggak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Merasa bahwa milik orang lain lebih bagus dibandingkan milik dirinya sendiri.

Mungkin ada baiknya mengenal tubuh kita lebih baik agar kita bisa lebih mencintai milik kita. Mungkin bisa dimulai dengan pertanyaan: ‘apa gue sehat?’, ‘apa ada masalah di organ tubuh gue?’ Dari situ baru kita bisa lebih fair sama tubuh kita.Kita tahu mana yang harus kita perbaiki tanpa harus memaksa tubuh kita mengalami ‘penyiksaan’ berlebih.

Udah tau kan kalo sekarang model-model catwalk sudah dilarang untuk melakukan diet ketat dan badan-badan model victoria secret terlihat lebih sehat-bugar? Karena mereka nemuin teori baru dalam menjaga keindahan tubuh: Pola hidup sehat

Seperti apapun bentuk tubuhmu, bersyukur itu penting banget.Menjaga kesehatan tubuh itu termasuk cara bersyukur.Kalo dengan pola hidup sehat tubuh kamu terlihat lebih kurus/ gemuk anggaplah itu bonus….

Advertisements

Saatnya Bercerita

Oke, saya harus jujur sama kalian. Setelah sekian lama nggak menulis tulisan panjang, tiba-tiba tangan saya udah mulai kaku mengetik dengan laptop. Saya pun merasa kemampuan menulis saya menurun. Isi kepala saya rasanya mau pecah. Njlimet. Tanpa ketahuan di mana ujungnya.
Banyak sekali peristiwa yang terjadi dari sejak terakhir kali saya menulis blog. Tapi bingung harus cerita yang mana dulu ke kalian. Banyak hal menarik yang terjadi. Rasanya semua-semuanya pengen banget saya tuangkan ke dalam blog. Tapi kayaknya hal pertama yang harus saya lakukan adalah menyusun potongan-potongan peristiwa itu perlahan-lahan agar nggak bikin saya mendadak pengen bunuh diri saking pusingnya hahaha….

Sudah hampir dua tahun saya nggak nulis blog.Bukannya ngeles, tapi kayaknya saya lagi dalam masa perenungan panjang (Tsahelaah!) Banyak hal-hal yang membuat saya berpikir dalam-dalam tentang hidup. Sampai pada sebuah pertanyaan tentang… “Kenapa saya masih hidup sampai sekarang?”

Pernah nggak sih kalian berpikir seperti itu?
I mean, pernah nggak sih kalian bertanya-tanya apa sebenarnya tujuan Tuhan membiarkan kita untuk tetap berada di dunia?
Seorang kawan pernah bilang, “Kalo lo masih hidup di dunia, itu tandanya rejeki lo masih ada, pelajaran hidup lo masih kurang banyak, atau kebahagiaan lo masih ada yang belum terwujud.”
Apapun itu. Yang jelas, ada alasan penting yang Tuhan miliki untuk setiap makhluknya yang masih bernafas.

Kemarin, publik dikejutkan dengan kematian seorang aktor luar biasa, Robin William ~yang menurut Paris Hilton dia adalah seorang penyanyi, I think she was drunk! :))~ Agak terkesima ketika menyadari bahwa orang sekeren Robin William dengan karier menjulang aja bisa sampai bunuh diri. Apa yang membuat dia begitu ingin pergi meninggalkan dunia? Bukan saya aja yang kaget, semua orang, di seluruh dunia, bahkan untuk seekor Gorilla bernama popo (forgive me if i’m wrong) kaget atas berita kepergiannya.

Kasus Robin William menyadarkan saya pada satu hal, bahwa setiap manusia pasti punya masalah. Baik yang terlihat atau pun yang dipendam sendiri. Dan dalam hal ini, ada sesuatu yang terlihat ‘kecil’ tapi ternyata memberikan dampak yang cukup besar kepada kehidupan individu. Bercerita. Ya, bercerita pada orang lain, buku diari, atau blog ternyata menjadi penting di tengah masalah-masalah ruwet yang dihadapi manusia. Hal simple, tapi menurut saya akan mampu mengurangi angka bunuh diri di seluruh dunia.

Jadi…
berceritalah…
Selagi bisa…
Dan mungkin….
Robin William….
Lupa untuk…bercerita.

Saya, Trupala, dan Indonesia

Hari itu, saya sedang membereskan lemari pakaian ketika melihat sebuah jaket orange bernomor dada Tr.026/01 tergantung manis di sana. Jaket itu tiba-tiba langsung menarik saya pada kenangan-kenangan luar biasa sewaktu SMU dulu. Ya, kenangan saya dengan sebuah organisasi pecinta alam bernama Trupala. Organisasi yang konon terdengar ‘menyeramkan’ jika disebutkan di dalam lingkungan SMU saya pada waktu itu.

Postingan kali ini saya mau bercerita tentang Trupala dari kacamata saya. Harus saya akui, kalau Trupala menjadi bagian yang nggak terpisahkan dari hidup saya.Banyak hal-hal besar yang saya pelajari dari organisasi itu.Hal-hal besar yang (bodohnya) baru saya sadari ketika usia saya saat ini.

Saya masuk jadi anggota Trupala pada tahun 2001. Tepat ketika saya masih jadi junior paling piyik di sekolah.Alias anak kelas satu. Waktu itu saya nggak tahu kalau Trupala bukan salah satu ekskul di sekolah, tapi memang sebuah organisasi mandiri yang anggotanya adalah anak-anak SMU saya. Yang membuat saya penasaran dengan organisasi ini pertama kali adalah JAKET ORANGE yang entah kenapa bikin orang jadi kelihatan keren kalau mengenakannya (ehem!).

Saya ingat betul bagaimana para anggotanya begitu membela jaket tersebut mati-matian dari razia guru atau apapun bentuk pelecehan dari pihak tertentu.Dan pertanyaan pun muncul di benak saya waktu itu. Di benak seorang anak baru yang tidak populer dan sangat ringkih ini. Apa sih keistimewaan jaket itu?

Dan ketika saya resmi masuk ke dalam anggota organisasi pecinta alam tersebut, saya tahu jawabannya. Jaket itu magis. Ya, MAGIS…

Butuh usaha luarbiasa ketika harus meminta ijin kepada orang tua saya waktu itu untuk mengikuti pendidikan dasar Trupala, syarat yang harus dipenuhi untuk masuk menjadi anggota. Terdengar menyeramkan memang. Belum lagi gosip-gosip ‘kurang cerdas’ yang beredar mengenai pendidikan dasar itu. Gosip yang bikin hati semua orang tua di dunia ini ketar-ketir membiarkan anaknya ikut pendidikan dasar Trupala.

Tapi saya masih ingat kata-kata mama waktu itu ketika mengijinkan saya pergi. Mama bilang, “Mama percaya kamu bisa jaga diri, dan mama percaya mereka (Trupala). Mama yakin kamu bisa belajar banyak dari didas (pendidikan dasar) ini.”

Dan akhirnya berangkatlah saya ke Gunung Salak bersama 47 calon anggota Trupala lainnya dengan membawa perlengkapan naik gunung LENGKAP! Laki-laki dan perempuan nggak ada bedanya.Cakep banget kan tuh hidup? Dari mulai carrier,misting,p3k,ponco, matras, kompor parafin,bahan makanan,dan lain sebagainya. Kebayang kan, bagaimana wujud saya yang memiliki badan mini ini harus menggendong carrier 70 lt berisi segala perlengkapan itu ke gunung salak?tapi saya nekad. Ya, cuma itu modal saya. Nekad dan tekad *wooosaaah ciiiiaaattttt!

Setelah melewati tiga hari dua malam yang…. Hmmm…. Yaah…. Gitu deh ahahaha… Pokoknya luar biasa deh kalau diceritain.Nggak bakalan cukup kalau harus ditulis di blog.Mendingan kalian ketemu saya terus minta saya ceritain.Nanti bakalan saya ceritain selama tiga hari tiga malam, gimana waktu pendidikan dasar hahaha….

Akhirnya, sampai juga saya mengenakan jaket orange kebanggaan Trupala itu. Dan benar, jaket itu magis. Segala bentuk pengalaman selama pendidikan dasar dan hasil yang diperoleh setelahnya, jelas terasa di dalam hati dan otak saya ketika mengenakan jaket itu. Jaket itu bercerita… melalui memori….

Dari Trupala saya mempelajari dan menyadari banyak hal. Bukan saya sok ceramah atau apapun, tapi Trupala memang membuat saya introspeksi diri. Menyadari kalau manusia itu sangat kecil.Nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan Tuhan yang menciptakan alam raya ini. Jadi jangan sombong jadi manusia. Trupala mengajak saya melihat itu semua. Bercermin pada gunung, tebing, hutan, lautan, goa, sungai, dan danau yang diciptakan Tuhan luar biasa indahnya. Trupala mengajak saya melihat Indonesia, dari kacamata yang berbeda..

Trupala menjunjung tinggi arti persaudaraan yang sebenar-benarnya. Hubungan senior-junior sangat dekat karena merasa satu keluarga. Bahkan untuk jarak yang lumayan jauh (bisa saya panggil kakek:). Berkelompok-kelompok kecil itu biasa, karena nggak mungkin menyamaratakan pemikiran ratusan anggota.Tapi yang kami tahu, kami tetap satu keluarga. Kami mengalami perjuangan besar untuk berada dalam keluarga besar Taruna Pecinta Alam.

Pada akhirnya saya sadar kalau jaket orange itu adalah sebuah simbol tanggung jawab besar. Nomor yang terpatri di dada anggota adalah sebuah amanat. Bahwa kelebihan dan ketrampilan yang dimiliki karena belajar dari organisasi bukan untuk pamer atau gaya-gayaan. Tapi justru merupakan tanggung jawab untuk selalu menjaga dan memelihara alam semesta. Serta untuk membantu sesama. Ya, Trupala membuka mata saya bahwa orang biasa seperti saya bisa berguna juga.Ternyata hidup saya bisa juga bernilai untuk orang lain. Saya menyadarinya ketika ikut andil dalam posko banjir Trupala sewaktu SMU dulu. Dimana Trupala membantu para korban yang terjebak di rumah mereka karena banjir besar melanda Ibukota.Saya menyadarinya ketika seorang renta dari salah satu korban banjir menjabat tangan saya dan mengucapkan kata terima kasih dengan mata berbinar. Saya terharu…. (*lap umbel)

Setelah peristiwa itu, sudah lama saya nggak mengikuti perkembangan Trupala karena kesibukan pekerjaan dan kuliah saya setelah lulus SMU.Hanya update berita melalui fb dan datang ketika acara-acara besar saja.Jaket pun entah kemana. Tapi berita tragedi pesawat Sukhoi Superjet di televisi beberapa waktu yang lalu kembali menegakkan sandaran saya.

Segenap rasa hormat dan kebanggaan luar biasa saya tujukan kepada senior Trupala, ketika mengetahui bahwa Trupala merupakan salah satu dari tim gabungan yang pertama kali menemukan bangkai dan korban pesawat tersebut. Ditengah kesedihan keluarga korban, bahkan mungkin seluruh masyarakat Indonesia, yang menunggu kepastian kondisi korban. Dari mulai orang-orang yang berada di tengah kemacetan, di cafe, di rumah, di kantor, atau di sebuah warung kopi pinggiran, semua berharap adanya keajaiban. Trupala Ikut andil menjawab kekalutan mereka. Trupala masih ada! Trupala masih bernafas… Untuk alam… Untuk sesama manusia… Untuk Indonesia….

Lepas dari dengan atau tidak bersama Trupala, saya masih aktif menjelajah alam. Terkadang naik gunung bareng teman-teman kampus, memanjat dengan beberapa kenalan, atau sekedar snorkling dengan teman-teman satu hobi. Terima kasih Trupala karena telah memperkenalkan saya dengan itu semua.

Terima kasih karena telah memperkenalkan indahnya alam Indonesia, dari menyentuh embun pagi gunung salak, menghirupnya, dan membiarkan semuanya tersimpan di dalam hati. Terima kasih karena mengajari saya tentang kehangatan persaudaraan dari sebuah genggaman tangan ketika kaki ini kesulitan menanjak bebatuan untuk mencapai puncak. Dan terima kasih telah mengajari saya bagaimana menghargai, dan berharga untuk orang lain hanya dengan sebuah kalimat semangat ketika salah satu diantara kami nyaris menyerah di pendidikan dasar. Terima kasih karena telah membuat saya percaya, bahwa tubuh mini saya ini ternyata sanggup menjejakkan kaki di puncak-puncak pegunungan. Melihat dengan mata kepala saya sendiri kekuasaan maha dahsyat Sang Pencipta.

Untuk mengakhiri postingan saya kali ini, saya ingin mengutip sebuah paragraf yang saya tulis di novel baru saya (*jiaaah) yang Insya Allah akan terbit tahun depan:

“Seorang bijak pernah berkata, dakilah gunung-gunung tinggi, melangkahlah di hutan-hutan, telusurilah goa-goa, jamahlah tanah di lembah, panjatlah batang-batang pepohonan, dan rasakan air di lautan karena mereka adalah guru-guru terbaik yang diciptakan Tuhan untuk mengajarimu…”

Salam,
Dyan Nuranindya
Tr.026/01

Ini soal tanggung jawab

Seorang teman menelepon saya hari itu.Perasaan heran langsung muncul di pikiran saya.Tumben banget dia nelpon?ade apee dunia?telepon itulah yang akhirnya membuat saya berada di tempat ini.Di atap kos-kosan teman saya. Saya memandangi cowok di sebelah saya heran.Tubuhnya terlihat lebih kurus. Sejak saya tiba, dia udah nangkring di atap kosannya, menghabiskan berpuntung-puntung rokok, dan menegak sebotol vodka.Pandangannya menerawang jauh.
“Yaelah, masih gini-gini aja lo!” sapa saya sambil membawa secangkir cofemix yang saya beli di warung sebelah.
Dia cuma nyengir.Sambil kembali menghisap rokoknya dalam-dalam.

Pathetic.Itu yang bisa saya ucapkan dalam hati ketika melihat teman saya itu. Sosok yang dulu begitu diidolakan banyak orang karena kecanggihannya bermain gitar,sosok yang dulu begitu sombong karena kecerdasan otaknya, digilai perempuan,dan doyan mem-bully karena kekuasaannya di sekolah.Tapi sekarang… Nothing.Semua korban-korbannya seakan membalaskan semua dendam padanya.Tertawa-tawa karena kondisinya saat ini yang…..nothing.

“Cariin gue kerja, Chiel.”
“Lha, kerjaan lo?”
“Kerja tetap maksud gue.Bukan kerja serabutan.”
Saya menghela nafas panjang.Kemudian menatapnya. “Kenapa?”
Dia menegak minumannya. Kemudian berjalan ke sudut atap.
Dalam hati saya mulai berguman, ‘duh! Kalau sampai teman saya begini,berarti masalahnya berat banget.’
“Cewek gue hamil,Chiel. Anak gue.”
Kaget.Sekaget-kagetnya. Tapi semua ekspresi saya tahan sebisa mungkin.Saya cuma diam.
“Gue salah. Biasalah, kebawa pergaulan anak mude jaman sekarang”
Dengan intonasi yang datar, saya bertanya, “Trus?Lo maunya gimana?”
“Gue akan tanggung jawablah.Gue dan cewek gue udah ngomong sama bokap-nyokap gue…”

Dalam hati saya amat sangat respect dengan keputusan yang diambil teman saya.Itu yang namanya lelaki.Dia bukan cowok bajingan yang ninggalin ceweknya, lepas tanggung jawab setelah tahu ceweknya hamil. Dan butuh keberanian luar biasa untuk mengakui semuanya.Itu yang saya salut dari dia.Meskipun nggak bisa dibenarkan juga perilaku “ngehamilin’ anak orang sebelum nikah.Gimana kalau jadi orang tuanya, pasti shock sampe ubun2.But anyway, itu pilihannya dia kan booo…ngapain saya ikut campur hidupnya die.Macem hidup saya bener aja ahaha… Hush!

“Hidup lo sempurna banget ya, Chiel..” ujarnya tiba-tiba.Bikin saya kaget sekaligus heran.
“Yassalaaam!!! kalo hidup gue sempurna, gue nggak mungkin ada di sini cuma untuk liatin elo mabok.Gue pasti udah naik ferari dan jalan-jalan ke Raja Ampat.Huahaha…” jawab saya.

Tapi dia diam saja.Kayaknya dia lagi nggak mau bercanda. “Menurut gue, semua orang punya kesempurnaan masing-masing dalam hidup.Yang penting tuh bersyukur.Kesempurnaan itu dinilai dari seberapa banyak kita mensyukuri hidup kita.Yakanyakan?”
“Tapi hidup lo rapih, Chiel. Ya..meskipun kelakuan lo rada sableng.” Dia nyengir sesaat.Kemudian kembali menghisap rokoknya.
“Ah.. lo gak tau aja klo hidup gue berantakan juga kayak muke lo!” jawab saya sambil cengengesan.
“Gw salah banget, Chiel.”
“Udah deeeh, nggak usah nyalahin diri lo mulu.Ini udah kejadian gitu.Pertama,elo udah ngaku salah.Kedua,elo udah tanggung jawab.Ketiga,lo udah mikirin masa depan buat elo dan keluarga baru lo nanti.Nah, tinggal elo melakukan tugas lo dengan baik sebagai kepala keluarga nanti sebagai bentuk menebusan dosa lo.Dan ini…musti berhenti ini…”ujar saya sambil mengambil botol minumannya.

Saya menatap teman saya. Saya tahu dia bandel amit-amit dari jaman dia sekolah dulu.Rusuh, asal, berantakan. Tapi hey… Malam ini saya melihat sebuah kedewasaan didirinya.Saya bukan orang tua dia yang berhak menghakimi atas perilakunya. Tapi, menurut saya, inti dari semua itu kan masalah tanggung jawab.Tanggung jawab dari sebelum dia melakukan, dan setelah dia melakukan. Tanggung jawab antara dirinya dan orang-orang yang berkaitan, serta tanggung jawab dengan Tuhan pastinya. Ketika ia dan ceweknya telah pasang badan untuk bertanggung jawab, apa yang harus dipermasalahkan?malu?malu itu bukannya bagian dari tanggung jawab juga?Toh semuanya udah terlanjur kan?mau nggak mau ya harus dihadapi. Kita hidup di dunia ini aja akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat nanti yakanyakan?maaf saya sok tau… Tapi… Entahlah.Saya cuma berkomentar.Yang jelas, semua orang punya prinsip dan jalan hidup masing-masing.

Kejadian ini sudah setahun yang lalu terjadi.Dan teman saya ini telah memiliki anak yang luarbiasa lucunya.Dan saya bangga luar biasa karena dia telah berubah menjadi sosok ayah yang baik untuk anaknya.Maaf, saya menceritakan kisah ini semata-semata untuk menarik pelajaran berharga soal tanggung jawab:)

Celoteh seniman dungu (part 2)

“Silahkan coba menulis dulu sebelum Anda menghakimi seorang penulis adalah pembohong.Menjadi penulis bukan cuma persoalan menggabungkan kata-kata.Tapi sebuah proses belajar berempati pada keadaan nyata di dunia.Saya rasa cuma orang-orang sok tahu yang belum pernah mencoba menulis saja yang kurang kerjaan menghakimi seorang penulis.” -Dyan Nuranindya

Nama saya bertambah (part 2)

20121111-231248.jpg

Hay, udah lama banget saya nggak posting di blog ini. Maklum, beberapa waktu yang lalu, blog saya ini sempat nggak bisa dibuka lantaran ada beberapa data yang hilang.But anyway, akhirnya blog ini bisa kembali di buka dan dengan layout baru (akhirnyaa)…yiiipieeee!!!

Postingan kali ini adalah janji saya pada kalian yang membaca postingan saya terdahulu dengan judul ‘Nama Saya Bertambah (part 1)’. Yess, syukur Alhamdulillah… Setelah dua tahun jungkir balik mengejar pendidikan, akhirnya selesai juga kuliah S2 saya di komunikasi UI. Dan nama saya yang pada postingan terdahulu: Dyan Nuranindya, SE, bertambah panjang menjadi: Dyan Nuranindya, SE, M.Si 🙂 Bangga?pasti. Tapi bukan karena gelar yang menambah panjang nama saya. Karena bagi saya itu hanya akan membuat keren nama di undangan pernikahan saja (itupun kalo saya pengen masukin:p).Tapi lebih karena bangga bahwa orang serba biasa-biasa saja seperti saya (bahkan lebih cenderung dungu), yang nyaris nggak pernah terbayangkan oleh orang tua saya sekalipun bisa meraih pendidikan tinggi (karena mungkin saya kelewat cuek dan badung! Versi orang tua saya), bisa lulus sampai ke jenjang master. Alhamdulillah…

Saya bukan anak yang pintar.Nilai merah di rapor sudah jadi makanan saya sewaktu sekolah dulu. Bahkan saya sempat mengira kalau guru saya nggak punya bolpoin warna hitam (kidding). Tapi saya selalu punya keyakinan kalau kemampuan saya sebenarnya nggak hanya sebatas nilai merah di rapor. Saya pasti bisa lebih dari itu < — rayuan gombal anak sekolah ketika penerimaan rapor pada orang tua. But anyway, benar saja. Mungkin keyakinan itu yang membuat Tuhan begitu baik pada saya. Saya diberikan jalan dan banyak kesempatan berharga untuk saya bisa terus maju dan mengembangkan potensi saya. Dari mulai diberikan kesempatan untuk menerbitkan buku, sampai memperoleh beberapa beasiswa untuk melanjutkan pendidikan. Saya tahu saya nggak pinter, tapi saya nggak bodoh. Kalau saya nggak bisa, ya saya bisa belajar. Nggak usah buru-buru.Pelan-pelan aja kalau memang mampunya begitu. Dan fyi, kuliah s2 saya ini gratis hehehe…

Satu hal yang 'agak' aneh ketika saya lulus S2 ini. Banyak pola pikir dan sudut pandang yang berubah. Memang, bekerja di perusahaan besar dengan gaji yang ciamik adalah keinginan semua orang. Termasuk saya. Makanya ketika lulus, dan mendapat tawaran-tawaran menggiurkan, saya sempat tergoda. Tapi tiba-tiba hati kecil saya berkata: Hey, This is not what I really want. Memperoleh gelar pendidikan di nama bukan cuma semata-mata untuk mencari jabatan atau materi tinggi. Bukan juga untuk pamer dan gaya-gayaan. Tapi ada hal yang jauh lebih besar dari itu. Yang terkadang nggak disadari oleh para lulusan sarjana di Indonesia ini. Memperoleh gelar pendidikan tinggi merupakan simbol sebuah tanggung jawab yang semakin besar.

Saya teringat seorang dosen saya yang telah mengabdikan seumur hidupnya untuk dunia pendidikan. Kehidupannya sangat sederhana. Padahal gelar di namanya mungkin nggak akan cukup kalau harus ditulis dalam satu baris pada kartu nama. Entah apa jabatannya seandainya dia bekerja di sebuah kantor pemerintahan. Sehari-hari beliau harus mondar-mandir ujung ke ujung Jakarta hanya untuk mengajar. Dia juga bekerja sebagai konsultan di sebuah perusahaan. Ketika ditanya kenapa ia melakukan itu semua, jawabannya simpel : 'Karena orang percaya sama saya' jawaban yang singkat dan terkesan ambigu, tapi mengandung makna yang panjang dan dalam kalau direnungkan.Dan saya mulai mengerti…

'If You're Not Where You Want To Be In Life, It's Your Own Fault'
Kalimat tersebut yang selalu terngiang di hati saya. Membuat saya merenungi apa yang sebenarnya membuat saya bahagia. Saya menuliskan daftar kebahagiaan dan kesedihan saya pada secarik kertas. And guess what? Ternyata hasilnya seimbang. Bahkan ada beberapa yang justru saling melengkapi. Bukti keadilan Tuhan terlihat jelas pada secarik kertas itu. Tuhan ternyata begitu sayang pada saya. Saya diberikan kesedihan, agar saya tahu rasanya bahagia. Dan saya sangat bersyukur atas apapun yang terjadi di dalam kehidupan saya. Melalui secarik kertas itu, akhirnya saya tahu apa yang saya inginkan sebenarnya.

Bergabung dengan berbagai komunitas pengajar bagi kaum marjinal ternyata merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri untuk saya. Membuat diri saya merasa berharga untuk orang lain. Merasa hidup saya lebih bermakna. Disamping juga bekerja secukupnya untuk menyambung hidup. Setiap tetes keringat yang keluar ketika menempuh pendidikan pun nggak sia-sia rasanya. Tuhan sudah begitu baik memberikan saya kesempatan untuk meraih pendidikan tinggi. Jadi sudah menjadi kewajiban saya untuk membagi ilmu yang saya miliki untuk orang-orang yang nggak seberuntung saya. Ini adalah perwujudan rasa syukur saya pada Tuhan. Dengan berbagi. Ingat, harta, gelar, dan kekuasaan nggak dibawa sampai mati!

Kalian pasti punya passion masing-masing dalam hidup. Mengejar materi memang sebuah kewajiban selama nggak berlebihan. Memiliki jabatan tinggi di kantor juga menyenangkan. Tapi percaya deh, semuanya itu nggak akan bermakna kalau kalian nggak membagi apa yang kalian bisa untuk orang lain. So, mulailah mewarnai hidup kalian dengan melakukan hal-hal positif. Mungkin bisa dimulai degan memberikan tempat duduk kepada seorang ibu-ibu di bus, atau membantu orang yang ingin menyebrangi jalan. Sesimpel itu, tapi bisa bikin hidup kamu lebih bernilai.

Oiya, bagaimanapun, nama saya tetap Dyan Nuranindya. Panggil saja Dyan, atau Dichiel, sesuka hati kalian. Saya tetap akan menengok dan tersenyum pada kalian. Saya tetap saya:)

Nb: Mudah-mudahan postingan saya berikutnya, 'Nama saya bertambah part 3' sudah ada nama lelaki yang akan mewariskan wajah keturunan saya kelak di belakang nama saya. Amiiin…

20121111-231955.jpg

Are you happy?

Setiap orang pasti punya masalah dalam hidupnya.Lelah?Pasti.Saya pernah bertanya pada Tuhan mengenai sebuah kebahagiaan.Dan Tuhan menjawabnya melalui sebuah proses kehidupan.Bahagia ternyata bukan dicari,tapi bisa diciptakan.Sesimpel menertawai kebodohan diri,melihat foto2 gebetan yg lg tersenyum,atau memberi makan seekor kucing kecil di jalanan.Kebahagiaan justru ada ketika kita bisa menangis dan tertawa bersama orang-orang yang kita sayang,atau bahkan orang yang baru kita kenal tapi bersedia menopang tubuh kita, saat kita terpeleset jatuh.Orang-orang yang terpilih untuk menjadi malaikat bagi kita.Bahagia saya dangkal,tapi saya suka…kamu?