Dalam hal pekerjaan, dari dulu saya senang sekali yang namanya giving the opportunity buat orang lain. Terlebih untuk mahasiswa yang baru lulus atau orang-orang yang jobless gitu. Karena saya sadar, banyak orang yang nggak mudah untuk mendapatkan sebuah kesempatan. Saya pun sering mengalaminya. Sering dipandang sebelah mata, dianggap lemah, dianggap kecil, dianggap tidak mampu, ah… sudah nggak kehitung berapa banyak kesempatan yang nggak bisa saya dapatkan karena hal-hal tersebut. Jadi saya harus bekerja sangat keras untuk bisa mendapatkan kesempatan-kesempatan yang saya harapkan. Lebih dari orang lain. Makanya ketika sebuah kesempatan diberikan orang kepada saya, maka saya berusaha sangat keras untuk memegang kepercayaan tersebut. Sayangnya, ketika saya melakukan hal yang sama kepada orang lain, memberikan kesempatan kepada mereka, kadang orang-orang tersebut meremehkan. Sehingga banyak pekerjaan yang mengecewakan. Sering terjadi kesalahan, deadline meleset, dan sulit dihubungi. Itu membuat saya sangat kesal dan kecewa. Saya termasuk orang yang ‘sangat bisa kompromi’ asalkan mereka memberitahu kendala apa yang mereka hadapi sehingga terjadi hal-hal tersebut di atas. Tapi kalau sama sekali menghilang. Saya harus ngomong apa sama klien? Alhasil, banyak sekali yang pada akhirnya membuat saya terkena imbasnya. Klien tidak mau memakai kantor saya lagi, atau meragukan kinerja saya. Apes banget kan?

Baru-baru ini sebuah project desain menghampiri saya. Karena kebetulan deadline saya lagi banyak-banyaknya, jadilah saya memberikan project itu ke beberapa orang anak-anak yang baru lulus kuliah desain. Sebelum memberikan tanggal deadline, saya bertanya pada mereka, “Kalian sanggup nggak nyelesaiin pekerjaan tanggal segini?”
Dengan semangat, mereka meyakinkan saya bahwa mereka menyanggupinya. Jadilah saya tanda tangan kontrak dengan klien. Dan kejadian yang menyebalkan itu pun terjadi.Tepat di tanggal yang sudah dijanjikan, ketiga orang itu mematikan HP-nya. Semua nggak ada yang bisa dihubungi. Jadilah saya ‘mau digantung’ sama klien. Dua hari kemudian, tiga orang itu mengirimkan email ke saya hasil pekerjaan mereka. Saya menegur mereka, tapi dalam batas yang sangat wajar.
Sehabis mengirimkan SMS teguran, saya jadi merenung. Mungkin ada benarnya dosen galak sama urusan pengumpulan tugas tepat waktu. Itu sebenernya melatih mereka ketika menghadapi dunia kerja nantinya. Dimana mereka nggak lagi berhadapan dengan dosen galak. Klien galak dan juga hukum karena menyalahi kontrak. Untuk orang-orang yang senang mengulur-ngulur pekerjaan, mungkin saat di kuliah dulu dosennya baik banget membiarkan mereka telat ngumpulin tugas:P Saran saya sih, jangan hal itu jadi kebiasaan. Karena akan berdampak buruk pada pekerjaan kalian. Belajarlah menghargai waktu dan menghargai orang lain. Lagipula klien mana peduli kalian habis putus sama pacar, atau begadang berhari-hari karena menyelesaikan tugas dari mereka? Ketika kalian sudah menyetujui deadline yang diberikan klien, itu artinya kalian harus memegang komitmen itu.
Jangan jadikan ‘baru lulus’ sebagai alasan, karena di luar sana banyak banget fresh graduate yang profesional layaknya pegawai berpengalaman.

Advertisements