Image result for turning point in life

Picture Source: Shelleyhitz.com

Saya menyebutnya turning point. Saat di mana seseorang berada dalam kondisi maksimal dalam hidupnya. Baik itu di puncak, ataupun di bawah. Saya pernah mendengar ucapan seorang teman yang bilang bahwa saat kita berada di puncak kejayaan, maka kita harus mempersiapkan diri untuk terjun. Karena menurut teori kehidupan, roda selalu berputar. Jadi hanya tinggal menunggu waktu yang telah ditentukan oleh Tuhan.

Kalau dalam agama islam, saya sering menyebutnya dengan Kunfayakun. Apa yang terjadi, maka terjadilah. Ibarat Tuhan menjentikkan jarinya dan BLAAAR! Semuanya akan berubah.

Dalam hal terjun pun, setiap manusia memiliki proses yang amat beragam. Ada yang sedia payung agar terjun perlahan, ada yang terjun bebas tanpa pengaman apapun.

Sepanjang hidup saya, saya udah ngalamin yang namanya turning point berkali-kali. Baik di puncak, maupun di bawah. Honestly, semua itu membuat saya semakin dewasa dalam menghadapi hidup *tsaelah. Tuhan sungguh baik pada saya. Karena efeknya Alhamdulillah menuju ke hal yang positif. Meskipun ketika berada di titik turning point tersebut, saya ancur-ancuran bukan main. Tapi sekuat tenaga saya berusaha bangkit lagi dan lagi. Saya selalu ingat sebuah pepatah yang mengatakan kalau Tuhan nggak akan menguji makhluknya melebihi kemampuannya. That’s it! Jadi segila apapun yang terjadi di dalam hidup kita, percayalah bahwa kita memang orang terpilih yang cukup kuat untuk bisa menghadapi permasalahan itu.

Kalau saat ini kamu sedang mengalami masa turning point dalam hidup. Coba tenangkanlah pikiran sejenak, lakukan hal-hal yang menyenangkan, dan the most important thing is… eliminasi orang-orang yang menurut kamu membawa dampak buruk bagi kehidupan pribadi kamu. Like I did.

Saya bukan mengajarkan kamu untuk memusuhi mereka. ‘Menjauhkan’ bukan berarti kamu harus ‘memusuhi’, kan? Tetap jaga silaturahmi namun dengan frekuensi yang sedikit. Tapi kalau memang orang itu betul-betul mengganggu, ya terpaksa kita harus tutup akses yang ada ke orang tersebut. Dari pada hidup kamu semakin berantakan. Iya, kan? Inget, hidup kamu itu ada di dalam genggaman kamu. Bukan orang lain. Seberapa tinggi level toleransi kamu, kamu sendiri yang menentukan. Jangan pernah membiarkan satu orang pun menghancurkan hidup kamu!

Setelah melewati fase turning point dalam kehidupan, saya mulai memandang hidup jadi lebih sederhana. Rasanya saya udah nggak pernah memikirkan terlalu dalam hal-hal yang menyakiti hati saya. Saya cepet lupa sama hal negatif yang dilakukan orang ke saya. Saya juga meminimalisir berpikir jelek ke orang. Itu juga yang membuat saya menutup beberapa akun social media saya yang saya anggap memberikan dorongan untuk nyinyir, iri, dan dengki. Hahaha…

Hasilnya? Semua jadi lebih damai. Kebaikan datang silih berganti. Dan saya pun dikelilingi oleh orang-orang yang lua biasa baiknya. Mental saya pun jauh lebih kuat dari sebelumnya. Karena saya selalu ingat bahwa roda kehidupan berputar. Jadi persiapan untuk berada di bawah memang harus dilakukan. Saya juga lebih bisa bersikap tenang dan fokus ketika sesuatu yang buruk terjadi. Nggak grogian, apalagi marah-marah. Karena saya selalu ingat, kalau Tuhan berkehendak dan memilih saya untuk berada di barisan terdepan menghadapi masalah tersebut. Berarti saya memang cukup kuat menghadapinya :).

 

 

 

 

Advertisements