Niat baik yang nggak selalu ‘Baik’

Dalam hal pekerjaan, dari dulu saya senang sekali yang namanya giving the opportunity buat orang lain. Terlebih untuk mahasiswa yang baru lulus atau orang-orang yang jobless gitu. Karena saya sadar, banyak orang yang nggak mudah untuk mendapatkan sebuah kesempatan. Saya pun sering mengalaminya. Sering dipandang sebelah mata, dianggap lemah, dianggap kecil, dianggap tidak mampu, ah… sudah nggak kehitung berapa banyak kesempatan yang nggak bisa saya dapatkan karena hal-hal tersebut. Jadi saya harus bekerja sangat keras untuk bisa mendapatkan kesempatan-kesempatan yang saya harapkan. Lebih dari orang lain. Makanya ketika sebuah kesempatan diberikan orang kepada saya, maka saya berusaha sangat keras untuk memegang kepercayaan tersebut. Sayangnya, ketika saya melakukan hal yang sama kepada orang lain, memberikan kesempatan kepada mereka, kadang orang-orang tersebut meremehkan. Sehingga banyak pekerjaan yang mengecewakan. Sering terjadi kesalahan, deadline meleset, dan sulit dihubungi. Itu membuat saya sangat kesal dan kecewa. Saya termasuk orang yang ‘sangat bisa kompromi’ asalkan mereka memberitahu kendala apa yang mereka hadapi sehingga terjadi hal-hal tersebut di atas. Tapi kalau sama sekali menghilang. Saya harus ngomong apa sama klien? Alhasil, banyak sekali yang pada akhirnya membuat saya terkena imbasnya. Klien tidak mau memakai kantor saya lagi, atau meragukan kinerja saya. Apes banget kan?

Baru-baru ini sebuah project desain menghampiri saya. Karena kebetulan deadline saya lagi banyak-banyaknya, jadilah saya memberikan project itu ke beberapa orang anak-anak yang baru lulus kuliah desain. Sebelum memberikan tanggal deadline, saya bertanya pada mereka, “Kalian sanggup nggak nyelesaiin pekerjaan tanggal segini?”
Dengan semangat, mereka meyakinkan saya bahwa mereka menyanggupinya. Jadilah saya tanda tangan kontrak dengan klien. Dan kejadian yang menyebalkan itu pun terjadi.Tepat di tanggal yang sudah dijanjikan, ketiga orang itu mematikan HP-nya. Semua nggak ada yang bisa dihubungi. Jadilah saya ‘mau digantung’ sama klien. Dua hari kemudian, tiga orang itu mengirimkan email ke saya hasil pekerjaan mereka. Saya menegur mereka, tapi dalam batas yang sangat wajar.
Sehabis mengirimkan SMS teguran, saya jadi merenung. Mungkin ada benarnya dosen galak sama urusan pengumpulan tugas tepat waktu. Itu sebenernya melatih mereka ketika menghadapi dunia kerja nantinya. Dimana mereka nggak lagi berhadapan dengan dosen galak. Klien galak dan juga hukum karena menyalahi kontrak. Untuk orang-orang yang senang mengulur-ngulur pekerjaan, mungkin saat di kuliah dulu dosennya baik banget membiarkan mereka telat ngumpulin tugas:P Saran saya sih, jangan hal itu jadi kebiasaan. Karena akan berdampak buruk pada pekerjaan kalian. Belajarlah menghargai waktu dan menghargai orang lain. Lagipula klien mana peduli kalian habis putus sama pacar, atau begadang berhari-hari karena menyelesaikan tugas dari mereka? Ketika kalian sudah menyetujui deadline yang diberikan klien, itu artinya kalian harus memegang komitmen itu.
Jangan jadikan ‘baru lulus’ sebagai alasan, karena di luar sana banyak banget fresh graduate yang profesional layaknya pegawai berpengalaman.

Advertisements

Turning Point

Image result for turning point in life

Picture Source: Shelleyhitz.com

Saya menyebutnya turning point. Saat di mana seseorang berada dalam kondisi maksimal dalam hidupnya. Baik itu di puncak, ataupun di bawah. Saya pernah mendengar ucapan seorang teman yang bilang bahwa saat kita berada di puncak kejayaan, maka kita harus mempersiapkan diri untuk terjun. Karena menurut teori kehidupan, roda selalu berputar. Jadi hanya tinggal menunggu waktu yang telah ditentukan oleh Tuhan.

Kalau dalam agama islam, saya sering menyebutnya dengan Kunfayakun. Apa yang terjadi, maka terjadilah. Ibarat Tuhan menjentikkan jarinya dan BLAAAR! Semuanya akan berubah.

Dalam hal terjun pun, setiap manusia memiliki proses yang amat beragam. Ada yang sedia payung agar terjun perlahan, ada yang terjun bebas tanpa pengaman apapun.

Sepanjang hidup saya, saya udah ngalamin yang namanya turning point berkali-kali. Baik di puncak, maupun di bawah. Honestly, semua itu membuat saya semakin dewasa dalam menghadapi hidup *tsaelah. Tuhan sungguh baik pada saya. Karena efeknya Alhamdulillah menuju ke hal yang positif. Meskipun ketika berada di titik turning point tersebut, saya ancur-ancuran bukan main. Tapi sekuat tenaga saya berusaha bangkit lagi dan lagi. Saya selalu ingat sebuah pepatah yang mengatakan kalau Tuhan nggak akan menguji makhluknya melebihi kemampuannya. That’s it! Jadi segila apapun yang terjadi di dalam hidup kita, percayalah bahwa kita memang orang terpilih yang cukup kuat untuk bisa menghadapi permasalahan itu.

Kalau saat ini kamu sedang mengalami masa turning point dalam hidup. Coba tenangkanlah pikiran sejenak, lakukan hal-hal yang menyenangkan, dan the most important thing is… eliminasi orang-orang yang menurut kamu membawa dampak buruk bagi kehidupan pribadi kamu. Like I did.

Saya bukan mengajarkan kamu untuk memusuhi mereka. ‘Menjauhkan’ bukan berarti kamu harus ‘memusuhi’, kan? Tetap jaga silaturahmi namun dengan frekuensi yang sedikit. Tapi kalau memang orang itu betul-betul mengganggu, ya terpaksa kita harus tutup akses yang ada ke orang tersebut. Dari pada hidup kamu semakin berantakan. Iya, kan? Inget, hidup kamu itu ada di dalam genggaman kamu. Bukan orang lain. Seberapa tinggi level toleransi kamu, kamu sendiri yang menentukan. Jangan pernah membiarkan satu orang pun menghancurkan hidup kamu!

Setelah melewati fase turning point dalam kehidupan, saya mulai memandang hidup jadi lebih sederhana. Rasanya saya udah nggak pernah memikirkan terlalu dalam hal-hal yang menyakiti hati saya. Saya cepet lupa sama hal negatif yang dilakukan orang ke saya. Saya juga meminimalisir berpikir jelek ke orang. Itu juga yang membuat saya menutup beberapa akun social media saya yang saya anggap memberikan dorongan untuk nyinyir, iri, dan dengki. Hahaha…

Hasilnya? Semua jadi lebih damai. Kebaikan datang silih berganti. Dan saya pun dikelilingi oleh orang-orang yang lua biasa baiknya. Mental saya pun jauh lebih kuat dari sebelumnya. Karena saya selalu ingat bahwa roda kehidupan berputar. Jadi persiapan untuk berada di bawah memang harus dilakukan. Saya juga lebih bisa bersikap tenang dan fokus ketika sesuatu yang buruk terjadi. Nggak grogian, apalagi marah-marah. Karena saya selalu ingat, kalau Tuhan berkehendak dan memilih saya untuk berada di barisan terdepan menghadapi masalah tersebut. Berarti saya memang cukup kuat menghadapinya :).

 

 

 

 

YOUR CLOTHES ARE YOUR MEMORIES

Beberapa hari yang lalu saya baru selesai membereskan lemari pakaian. Rencana semula adalah untuk menyortir pakaian-pakaian yang sudah kekecilan atau jarang dipakai untuk disimpan ke dalam kardus agar isi lemari tidak terlalu penuh. Karena dulu seringkali kejadian pintu lemari yang nggak bisa ditutup atau punggung lemari yang jebol akibat overload pakaian di dalam lemari.

Akhirnya mama mengajarkan saya untuk melakukan metode: one in-one out. Jadi kalau saya mau menambah isi lemari, saya wajib mengurangi isinya juga. Ternyata metode itu cukup efektif. Setidaknya untuk saya.

Kembali ke kegiatan saya menyortir pakaian di lemari. Saya baru menyadari kalau sebuah lemari pakaian itu ibarat kotak kehidupan yang menyimpan berbagai kenangan. Setiap pakaian yang kita punya ternyata mampu bercerita.

Saya coba mengingat kenangan-kenangan melalui setiap pakaian di dalam lemari saya tersebut. Tiba-tiba rangkaian kisah masa lalu seperti menarik saya. Dari mulai pakaian yang saya gunakan ketika liburan ke suatu tempat yang indah, pakaian ketika saya reuni dengan kawan lama, pakaian ketika memiliki berat badan ideal, atau bahkan pakaian ketika saya nge-date pertama kali dengan pacar. Bahkan sedikit noda atau lubang yang mengotori pakaian saya pun bisa membuat saya mengingat sebuah kejadian.

Ya, semua pakaian punya kisah. Semua pakaian kita adalah saksi hidup kita.

Saya jadi berpikir, ternyata sebegitu berharganya sebuah pakaian bagi pemiliknya. Makanya nggak heran kalau pemilihan pakaian yang nyaman digunakan sama pentingnya seperti memilih make-up yang cocok untuk diri kita.

Baru-baru ini saya lagi nyaman memakai jumpsuit untuk berbagai kegiatan. Kenapa? Sssstt…. Saya kasih tahu ya, karena aktivitas saya yang lumayan padat setiap harinya, jadi saya mencari pakaian yang bisa nyaman dipakai seharian penuh dan dapat digunakan dalam segala situasi. Selain itu menurut saya, pakaian dengan jenis jumpsuit itu adalah ‘pakaian aman’ yang nggak akan membuat kamu saltum alias salah kostum. Triknya adalah jangan lupa bawa syal, kalung, jacket, atau anting yang sesuai. Jadi dalam satu hari, saya bisa terlihat seperti ganti-ganti gaya di acara yang berbeda. Brilian, kan? Yipiee…

DK070W Louis Long JumsuitCocolyn Sabrina Jumpsuit - Navywhite cross pleats jumpsuit

FYI, ternyata pakaian jenis jumpsuit sendiri dulu awalnya dibuat untuk para penerjun payung. Lalu berkembang untuk digunakan pada jenis kegiatan lain yang memerlukan gerakan ekstrim seperti pembalap, pekerja tambang, montir, dan lain sebagainya. Kalau dilihat-lihat sih, memang masuk akal mereka menggunakan jumpsuit untuk kegiatan-kegiatan tersebut. Pasti karena kenyamanannya yang bisa menutupi seluruh tubuh dan penggunaannya yang nggak ribet. Bayangkan saja kalau kamu lagi terjun payung, eh… bukannya konsentrasi tapi kamu malah sibuk benerin baju yang tertiup angin. Bisa-bisa kamu nyangsang di atas pohon atau di atap rumah orang. Hihihi…

Model jumpsuit sekarang juga udah lebih bervariasi karena desainer-desainer pakaian sudah mulai membuat jumpsuit untuk rancangan mereka. Penasaran dengan berbagai macam model jumpsuit? Kamu bisa klik model baju jumpsuit MatahariMall. Kesan sporty namun tetap feminin membuat pakaian itu semakin banyak peminatnya. Bahkan kegunaannya pun juga mulai beragam. Selena Gomez adalah salah satu contoh selebriti dunia yang senang mengenakan jumpsuit di setiap konsernya.

Well, untuk kamu yang pengen nyari-nyari jumpsuit yang cocok untuk aktivitas seharian penuh, kamu bisa lihat-lihat model baju jumpsuit MatahariMall di MatahariMall.com. Lebih gampang daripada kamu harus keluar masuk toko untuk nyari pakaian seru ini

Setelah selesai mengurangi isi lemari, kayaknya saya akan mengganti isinya dengan beberapa potong jumpsuit. Mungkin saat ini ada baiknya kamu juga mencari waktu luang khusus untuk menyortir pakaian kamu di lemari. Siapa tahu kamu bisa menemukan kenangan-kenangan lama yang membahagiakan. Tapi kalau ternyata ada pakaian yang justru mengingatkan kamu akan kenangan sedih, kamu bisa masukkan pakaian itu ke dalam kardus, dan sumbangkan untuk orang-orang yang membutuhkan. Dengan begitu, pakaian tersebut justru akan memberikan kebahagian untuk orang lain. Karena hal terbaik di dunia adalah jika kita mampu berbagi dan menciptakan kebahagiaan untuk orang lain.

So, mari menebarkan kebahagiaan…

Namanya Penyakit Hati

Pernah ngerasa difitnah orang?
Saya pernah banget.
Sakit? Jelas.
Anehnya fitnah itu terlontar dari seorang yang sudah saya anggap sebagai teman (meskipun teman baru).
Saya berpikir lamaaa sekali tentang kenapa dia begitu membenci saya. Bahkan nggak segan-segan mengadu domba saya dengan orang lain.

Padahal dia yang datang pada saya, dia yang mau berkenalan dengan saya, tapi pada akhirnya dia yang memfitnah dan mengadu domba saya.Tak lama saya disadari bahwa pertemanannya dengan saya hanya semata-mata untuk ‘menghabisi’ saya.

Saya pun bertanya pada orang-orang yang saya anggap mampu menjawab pertanyaan mengapa perempuan secantik dia tega melakukan itu pada saya. Jawabannya agak di luar ekspektasi.

Namanya penyakit hati.

Image result for emotion heart cartoon

Picture Source: Lost Heart By Fubuki

Penyakit hati menggerogoti dirinya.Membuatnya marah dan emosi jika menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan saya. Sehingga dia melakukan berbagai macam cara untuk ‘merusak’, ‘menyakiti’, bahkan kalo bisa saya hancur sekalian.

Meskipun saat itu perasaan sakit hati karena perkataan maupun fitnah yang terus mengganggu saya, saya bersyukur karena buanyaaaak sekali teman-teman yang sayang sama saya dengan support yang nggak pernah putus. Jadi saya bodo amat sama cewek itu.

Saya tahu pada dasarnya dia orang baik.Baik sekali malah.Sayang banget perilakunya bisa negatif seperti itu.

Dan pada akhirnya saya cuma bisa berdoa semoga Tuhan memaafkan cewek itu atas segala kekhilafannya. Atas segala perkataannya dulu yang menyinggung saya. Saya memaafkan dia.

Kalau saat ini hatinya masih diselimuti kebencian, maka urusannya udah bukan sama saya lagi. Tapi sudah sama Tuhan.

~sekian

Mengajar untuk Belajar

 

Ada hal yang sangat menyenangkan yang dimulai tahun lalu di kehidupan saya. Yap, akhirnya saya mengajar. Yippieee… Cita-cita yang udah lama saya impikan.Mengajar.

Sebetulnya ada yang agak melenceng dari perkiraan saya. Tadinya saya berpikir kepingin jadi guru TK atau SD atau sukur-sukur bisa dikirim ke daerah terpencil untuk mengajar di sana. Tapi, jreng…jreng… Ternyata saya dipilih Tuhan untuk mengajar mahasiswa alias jadi dosen. Alhamdulillah…

Menjadi dosen bukan perkara gampang untuk saya yang notabene berasal dari wilayah praktisi, bukan akademisi. Beruntung mahasiswa/i yang saya ajar asik-asik dan pinter-pinter. Mereka teman diskusi yang menyenangkan. Bikin saya ketawa terus dengan kelakuan-kelakuan mereka. Saya bilang namanya simbiosis mutualisme. Mereka belajar dan saya pun belajar dari mereka.

Melihat mahasiswa- mahasiswi saya, bikin saya introspeksi diri. Kenapa? Karena mereka bikin saya sadar kalo dulu zamannya jadi mahasiswa, saya tuh ternyata badung banget yak! Dan ternyata dosen itu tahu lho badung-badung lucunya mahasiswa. Cuma kadang mereka lebih milih untuk diam karena nggak tega atau memegang prinsip ‘cukup tau aja’. Sepertinya saya sedang melakukan penebusan dosa waktu jadi mahasiswi hahaha… (Atau kena karma) *Huufft banget.

Anyway, memeriksa ujian mahasiswa adalah moment terberat yang saya alami.Kenapa? Karena sebisa mungkin saya harus objektif. Trus rasanya juga nggak enak banget kalau nilai mahasiswa saya jelek-jelek. Karena bikin saya mikir, “Ini saya yang nggak bisa ngajar, atau emang mereka yang males belajar ya?” Asli sedih banget. Belum lagi saya orang yang paling nggak tegaan.

Tapi balik lagi, saya harus belajar. Kalo mahasiswa saya nulis jawaban salah, ya itu kewajiban saya untuk kasih tahu kalau itu salah. Sehingga untuk ke depannya mereka belajar dan tahu jawaban yang benar. Itu gunanya belajar.Itu gunanya kuliah. Untuk mempelajari kesalahan. Kalau semua mahasiswa saya nggak pernah salah, nggak pernah dapet nilai jelek, nggak pernah diomelin dosen, ya nggak perlu mereka capek2 kuliah. Se-simple itu.

Apa yang membuat mereka merasa tertekan di kampus, sebenarnya itu adalah latihan terhebat mereka untuk menghadapi dunia kerja yang jauuuuh lebih ‘sadis’. Tugas kuliah adalah representasi dari brief di kantor dan ujian semester adalah cerminan dari deadline kantor. Percaya deh, dengan menjalankan kuliah dengan enjoy dan disiplin. Ngadepin politik kantor jadi gak terlalu merepotkan. Karena mental mereka udah terlatih.

Saya menutup kuliah terakhir saya dengan segenap doa dan harapan untuk mahasiswa saya. Semoga kalian tetep jadi manusia yang asik, kritis, dan sukses. Jadilah orang baik. Dan terima kasih udah jadi mahasiswa-mahasiswi saya yang kece banget!

Sepertinya saya ketagihan mengajar.
Karena mengajar adalah cara kita untuk tetap belajar.

Doa di Hari Perpisahan

Hari ini setahun yang lalu, menyadarkan saya pada satu kenyataan:

Bahwa kebahagiaan dan kesedihan sebetulnya sama saja.
Hanya perlakuannya saja yang berbeda.
Dan pada akhirnya…
Manusia butuh lupa untuk menghapus luka.

Happy Anniversary ya …
Jangan cengeng dengan dunia.
Jaga kesadaranmu dalam kesepian yang menyelimutimu.

Semoga kamu terima doa yang terbawa angin pagi ini..
Untuk kamu…
Yang telah pergi dan menghilang…

Malaikat Maut itu bernama Manusia

Dari lahir tinggal di jakarta membuat saya tumbuh menjadi pribadi yang (menurut saya) keras kepala. Maklumlah, jakarta keras cuiy! (Halah!)
Tapi bener lho, di kota ini orang salah bisa berlagak bener.Asal punya nyali.Dan yang sadisnya, kadang orang bener justru malah terintimidasi.
Tapi bagaimanapun, saya lahir, tumbuh, dan bekerja di jakarta. Kalo gak puas sama jakarta, ya pindah aja ke kota lain.Tapi kalo emang ‘terpaksa’ ya anggap aja Jakarta itu penghidupan, bukan kehidupan.
Ngomongin soal kejahatan di jakarta, kayaknya nggak bakalan habis kalo harus ditulis cuma dalam satu potingan aja. Banyak manusia yang mulai merasa kayak malaikat maut bisa mengambil nyawa manusia lain.’Nyawa’ yang saya maksud di sini bukan cuma ‘soul’ tapi bisa sumber mata pencarian, keluarga, harta, sahabat, atau apapun yang bernilai untuk manusia itu sendiri. Kadang si ‘malaikat maut’ itu bukan seseorang yang levelnya di bawah si korban.Bisa jadi justru jauh di atas si korban. merasa punya kekuasaan dan akhirnya ‘dash!’ Mereka mengambil ‘nyawa’ korbannya. Astaghfirullah, saya nggak habis pikir kok ada orang kayak begitu di dunia ini. Tapi itulah yang terjadi di dunia ini. Serem ya?

Image result for dark angel cartoon
Setan pasti ketawa-ketawa ngeliat itu semua terjadi pada makhluk yang katanya punya derajat paling mulia di antara semua makhluk yang diciptakan Tuhan YME.
Saya pernah difitnah orang. 1st time bingung juga.Orang saya nggak ngelakuin apa yg orang itu sebut kok.Tapi sayangnya setelah lama saya diem aja nanggepinnya, fitnah itu makin menjadi-jadi tanpa jelas tujuan orang itu apa ke saya.Lama-lama saya panas juga kebawa emosi.Tapi untungnya banyak sahabat-sahabat saya yang bilangin dan bikin saya mikir panjang banget. Mungkin yang dilakukan orang itu bukan karena sebuah kebencian aja.Tapi bisa jadi dia hanya iri.Saya anggap dia memiliki penyakit hati. Kalo saya sakit hati karena ucapan atau fitnahnya, saya cuma bisa berdoa supaya Tuhan menyembuhkan penyakit hatinya.Karena biar bagaimanapun, yang tahu kebenaran sebenar-benarnya dan yang berhak membalas atas baik-buruk perilaku manusia itu cuma Tuhan.Manusia nggak punya hak untuk balas dendam. *itu kata saya lho*

Size doesn’t matter

“Badan lo enak banget ya, kecil. Jadi mau ngapa-ngapain gampang.”

Begitu kira-kira kalimat yang sering saya dengar dari mulut teman-teman saya. Satu sisi bersyukur karena dengan tubuh mini seperti ini saya masih diberikan kesehatan. Tapi di sisi lain, ada banyak hal yang nggak kalian ketahui mengenai orang-orang bertubuh mini seperti saya.

Dari dulu saya sering berkata pada teman-teman untuk bersyukur bagaimana pun bentuk tubuhnya. Mau ukuran besar ataupun kecil. Yang terpenting itu adalah kesehatan. Buat apa bertubuh indah tapi sakit-sakitan? atau mungkin yang lebih ekstrim lagi, buat apa bertubuh indah tapi nggak bahagia?

Ketahuilah bahwa memiliki tubuh mini seperti saya nggak selalu menyenangkan.Saya sering diremehkan orang karena dianggap anak kecil.Baik secara pemikiran ataupun kekuatan fisik.Yang jelas,saya harus bekerja keras dua kali lipat dari pada orang-orang yang bertubuh besar hanya untuk sebuah pengakuan. Saya juga kesulitan menemukan pakaian wanita yang cukup proposional untuk saya. Saya lebih sering mencari di bagian khusus anak-anak.

…sedih….

Tapi lebih sedih lagi ketika mengetahui banyak teman-teman saya yang bertubuh besar justru sangat ingin memiliki tubuh mini seperti saya. Banyak dari mereka yang rela diet habis-habisan bahkan sampai tersiksa karena menu makanan yang penuh dengan peraturan yang jumlahnya melebihi UUD 45. Akibat diet ketat itu banyak yang jatuh sakit.

Dari situ saya sadar emang manusia nggak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Merasa bahwa milik orang lain lebih bagus dibandingkan milik dirinya sendiri.

Mungkin ada baiknya mengenal tubuh kita lebih baik agar kita bisa lebih mencintai milik kita. Mungkin bisa dimulai dengan pertanyaan: ‘apa gue sehat?’, ‘apa ada masalah di organ tubuh gue?’ Dari situ baru kita bisa lebih fair sama tubuh kita.Kita tahu mana yang harus kita perbaiki tanpa harus memaksa tubuh kita mengalami ‘penyiksaan’ berlebih.

Udah tau kan kalo sekarang model-model catwalk sudah dilarang untuk melakukan diet ketat dan badan-badan model victoria secret terlihat lebih sehat-bugar? Karena mereka nemuin teori baru dalam menjaga keindahan tubuh: Pola hidup sehat

Seperti apapun bentuk tubuhmu, bersyukur itu penting banget.Menjaga kesehatan tubuh itu termasuk cara bersyukur.Kalo dengan pola hidup sehat tubuh kamu terlihat lebih kurus/ gemuk anggaplah itu bonus….

Saatnya Bercerita

Oke, saya harus jujur sama kalian. Setelah sekian lama nggak menulis tulisan panjang, tiba-tiba tangan saya udah mulai kaku mengetik dengan laptop. Saya pun merasa kemampuan menulis saya menurun. Isi kepala saya rasanya mau pecah. Njlimet. Tanpa ketahuan di mana ujungnya.
Banyak sekali peristiwa yang terjadi dari sejak terakhir kali saya menulis blog. Tapi bingung harus cerita yang mana dulu ke kalian. Banyak hal menarik yang terjadi. Rasanya semua-semuanya pengen banget saya tuangkan ke dalam blog. Tapi kayaknya hal pertama yang harus saya lakukan adalah menyusun potongan-potongan peristiwa itu perlahan-lahan agar nggak bikin saya mendadak pengen bunuh diri saking pusingnya hahaha….

Sudah hampir dua tahun saya nggak nulis blog.Bukannya ngeles, tapi kayaknya saya lagi dalam masa perenungan panjang (Tsahelaah!) Banyak hal-hal yang membuat saya berpikir dalam-dalam tentang hidup. Sampai pada sebuah pertanyaan tentang… “Kenapa saya masih hidup sampai sekarang?”

Pernah nggak sih kalian berpikir seperti itu?
I mean, pernah nggak sih kalian bertanya-tanya apa sebenarnya tujuan Tuhan membiarkan kita untuk tetap berada di dunia?
Seorang kawan pernah bilang, “Kalo lo masih hidup di dunia, itu tandanya rejeki lo masih ada, pelajaran hidup lo masih kurang banyak, atau kebahagiaan lo masih ada yang belum terwujud.”
Apapun itu. Yang jelas, ada alasan penting yang Tuhan miliki untuk setiap makhluknya yang masih bernafas.

Kemarin, publik dikejutkan dengan kematian seorang aktor luar biasa, Robin William ~yang menurut Paris Hilton dia adalah seorang penyanyi, I think she was drunk! :))~ Agak terkesima ketika menyadari bahwa orang sekeren Robin William dengan karier menjulang aja bisa sampai bunuh diri. Apa yang membuat dia begitu ingin pergi meninggalkan dunia? Bukan saya aja yang kaget, semua orang, di seluruh dunia, bahkan untuk seekor Gorilla bernama popo (forgive me if i’m wrong) kaget atas berita kepergiannya.

Kasus Robin William menyadarkan saya pada satu hal, bahwa setiap manusia pasti punya masalah. Baik yang terlihat atau pun yang dipendam sendiri. Dan dalam hal ini, ada sesuatu yang terlihat ‘kecil’ tapi ternyata memberikan dampak yang cukup besar kepada kehidupan individu. Bercerita. Ya, bercerita pada orang lain, buku diari, atau blog ternyata menjadi penting di tengah masalah-masalah ruwet yang dihadapi manusia. Hal simple, tapi menurut saya akan mampu mengurangi angka bunuh diri di seluruh dunia.

Jadi…
berceritalah…
Selagi bisa…
Dan mungkin….
Robin William….
Lupa untuk…bercerita.

Saya, Trupala, dan Indonesia

Hari itu, saya sedang membereskan lemari pakaian ketika melihat sebuah jaket orange bernomor dada Tr.026/01 tergantung manis di sana. Jaket itu tiba-tiba langsung menarik saya pada kenangan-kenangan luar biasa sewaktu SMU dulu. Ya, kenangan saya dengan sebuah organisasi pecinta alam bernama Trupala. Organisasi yang konon terdengar ‘menyeramkan’ jika disebutkan di dalam lingkungan SMU saya pada waktu itu.

Postingan kali ini saya mau bercerita tentang Trupala dari kacamata saya. Harus saya akui, kalau Trupala menjadi bagian yang nggak terpisahkan dari hidup saya.Banyak hal-hal besar yang saya pelajari dari organisasi itu.Hal-hal besar yang (bodohnya) baru saya sadari ketika usia saya saat ini.

Saya masuk jadi anggota Trupala pada tahun 2001. Tepat ketika saya masih jadi junior paling piyik di sekolah.Alias anak kelas satu. Waktu itu saya nggak tahu kalau Trupala bukan salah satu ekskul di sekolah, tapi memang sebuah organisasi mandiri yang anggotanya adalah anak-anak SMU saya. Yang membuat saya penasaran dengan organisasi ini pertama kali adalah JAKET ORANGE yang entah kenapa bikin orang jadi kelihatan keren kalau mengenakannya (ehem!).

Saya ingat betul bagaimana para anggotanya begitu membela jaket tersebut mati-matian dari razia guru atau apapun bentuk pelecehan dari pihak tertentu.Dan pertanyaan pun muncul di benak saya waktu itu. Di benak seorang anak baru yang tidak populer dan sangat ringkih ini. Apa sih keistimewaan jaket itu?

Dan ketika saya resmi masuk ke dalam anggota organisasi pecinta alam tersebut, saya tahu jawabannya. Jaket itu magis. Ya, MAGIS…

Butuh usaha luarbiasa ketika harus meminta ijin kepada orang tua saya waktu itu untuk mengikuti pendidikan dasar Trupala, syarat yang harus dipenuhi untuk masuk menjadi anggota. Terdengar menyeramkan memang. Belum lagi gosip-gosip ‘kurang cerdas’ yang beredar mengenai pendidikan dasar itu. Gosip yang bikin hati semua orang tua di dunia ini ketar-ketir membiarkan anaknya ikut pendidikan dasar Trupala.

Tapi saya masih ingat kata-kata mama waktu itu ketika mengijinkan saya pergi. Mama bilang, “Mama percaya kamu bisa jaga diri, dan mama percaya mereka (Trupala). Mama yakin kamu bisa belajar banyak dari didas (pendidikan dasar) ini.”

Dan akhirnya berangkatlah saya ke Gunung Salak bersama 47 calon anggota Trupala lainnya dengan membawa perlengkapan naik gunung LENGKAP! Laki-laki dan perempuan nggak ada bedanya.Cakep banget kan tuh hidup? Dari mulai carrier,misting,p3k,ponco, matras, kompor parafin,bahan makanan,dan lain sebagainya. Kebayang kan, bagaimana wujud saya yang memiliki badan mini ini harus menggendong carrier 70 lt berisi segala perlengkapan itu ke gunung salak?tapi saya nekad. Ya, cuma itu modal saya. Nekad dan tekad *wooosaaah ciiiiaaattttt!

Setelah melewati tiga hari dua malam yang…. Hmmm…. Yaah…. Gitu deh ahahaha… Pokoknya luar biasa deh kalau diceritain.Nggak bakalan cukup kalau harus ditulis di blog.Mendingan kalian ketemu saya terus minta saya ceritain.Nanti bakalan saya ceritain selama tiga hari tiga malam, gimana waktu pendidikan dasar hahaha….

Akhirnya, sampai juga saya mengenakan jaket orange kebanggaan Trupala itu. Dan benar, jaket itu magis. Segala bentuk pengalaman selama pendidikan dasar dan hasil yang diperoleh setelahnya, jelas terasa di dalam hati dan otak saya ketika mengenakan jaket itu. Jaket itu bercerita… melalui memori….

Dari Trupala saya mempelajari dan menyadari banyak hal. Bukan saya sok ceramah atau apapun, tapi Trupala memang membuat saya introspeksi diri. Menyadari kalau manusia itu sangat kecil.Nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan Tuhan yang menciptakan alam raya ini. Jadi jangan sombong jadi manusia. Trupala mengajak saya melihat itu semua. Bercermin pada gunung, tebing, hutan, lautan, goa, sungai, dan danau yang diciptakan Tuhan luar biasa indahnya. Trupala mengajak saya melihat Indonesia, dari kacamata yang berbeda..

Trupala menjunjung tinggi arti persaudaraan yang sebenar-benarnya. Hubungan senior-junior sangat dekat karena merasa satu keluarga. Bahkan untuk jarak yang lumayan jauh (bisa saya panggil kakek:). Berkelompok-kelompok kecil itu biasa, karena nggak mungkin menyamaratakan pemikiran ratusan anggota.Tapi yang kami tahu, kami tetap satu keluarga. Kami mengalami perjuangan besar untuk berada dalam keluarga besar Taruna Pecinta Alam.

Pada akhirnya saya sadar kalau jaket orange itu adalah sebuah simbol tanggung jawab besar. Nomor yang terpatri di dada anggota adalah sebuah amanat. Bahwa kelebihan dan ketrampilan yang dimiliki karena belajar dari organisasi bukan untuk pamer atau gaya-gayaan. Tapi justru merupakan tanggung jawab untuk selalu menjaga dan memelihara alam semesta. Serta untuk membantu sesama. Ya, Trupala membuka mata saya bahwa orang biasa seperti saya bisa berguna juga.Ternyata hidup saya bisa juga bernilai untuk orang lain. Saya menyadarinya ketika ikut andil dalam posko banjir Trupala sewaktu SMU dulu. Dimana Trupala membantu para korban yang terjebak di rumah mereka karena banjir besar melanda Ibukota.Saya menyadarinya ketika seorang renta dari salah satu korban banjir menjabat tangan saya dan mengucapkan kata terima kasih dengan mata berbinar. Saya terharu…. (*lap umbel)

Setelah peristiwa itu, sudah lama saya nggak mengikuti perkembangan Trupala karena kesibukan pekerjaan dan kuliah saya setelah lulus SMU.Hanya update berita melalui fb dan datang ketika acara-acara besar saja.Jaket pun entah kemana. Tapi berita tragedi pesawat Sukhoi Superjet di televisi beberapa waktu yang lalu kembali menegakkan sandaran saya.

Segenap rasa hormat dan kebanggaan luar biasa saya tujukan kepada senior Trupala, ketika mengetahui bahwa Trupala merupakan salah satu dari tim gabungan yang pertama kali menemukan bangkai dan korban pesawat tersebut. Ditengah kesedihan keluarga korban, bahkan mungkin seluruh masyarakat Indonesia, yang menunggu kepastian kondisi korban. Dari mulai orang-orang yang berada di tengah kemacetan, di cafe, di rumah, di kantor, atau di sebuah warung kopi pinggiran, semua berharap adanya keajaiban. Trupala Ikut andil menjawab kekalutan mereka. Trupala masih ada! Trupala masih bernafas… Untuk alam… Untuk sesama manusia… Untuk Indonesia….

Lepas dari dengan atau tidak bersama Trupala, saya masih aktif menjelajah alam. Terkadang naik gunung bareng teman-teman kampus, memanjat dengan beberapa kenalan, atau sekedar snorkling dengan teman-teman satu hobi. Terima kasih Trupala karena telah memperkenalkan saya dengan itu semua.

Terima kasih karena telah memperkenalkan indahnya alam Indonesia, dari menyentuh embun pagi gunung salak, menghirupnya, dan membiarkan semuanya tersimpan di dalam hati. Terima kasih karena mengajari saya tentang kehangatan persaudaraan dari sebuah genggaman tangan ketika kaki ini kesulitan menanjak bebatuan untuk mencapai puncak. Dan terima kasih telah mengajari saya bagaimana menghargai, dan berharga untuk orang lain hanya dengan sebuah kalimat semangat ketika salah satu diantara kami nyaris menyerah di pendidikan dasar. Terima kasih karena telah membuat saya percaya, bahwa tubuh mini saya ini ternyata sanggup menjejakkan kaki di puncak-puncak pegunungan. Melihat dengan mata kepala saya sendiri kekuasaan maha dahsyat Sang Pencipta.

Untuk mengakhiri postingan saya kali ini, saya ingin mengutip sebuah paragraf yang saya tulis di novel baru saya (*jiaaah) yang Insya Allah akan terbit tahun depan:

“Seorang bijak pernah berkata, dakilah gunung-gunung tinggi, melangkahlah di hutan-hutan, telusurilah goa-goa, jamahlah tanah di lembah, panjatlah batang-batang pepohonan, dan rasakan air di lautan karena mereka adalah guru-guru terbaik yang diciptakan Tuhan untuk mengajarimu…”

Salam,
Dyan Nuranindya
Tr.026/01